Tak Lagi di Jalanan, 'Pemulung' Kini Berburu Bangkai Roket di Antariksa

2 weeks ago 11
Tak Lagi di Jalanan, 'Pemulung' Kini Berburu Bangkai Roket di Antariksa ilustrasi(Magnific)

SIAPA sangka profesi "pemulung" kini tidak lagi hanya ditemukan di jalanan atau tempat pembuangan sampah terpadu di Bumi. Seiring semakin padatnya aktivitas manusia di luar angkasa, muncul pekerjaan baru yang memiliki tugas serupa, yakni mengumpulkan "sampah" yang mengorbit Bumi.

Bedanya, sampah yang dibersihkan bukan botol plastik atau kardus bekas, melainkan satelit mati, badan roket yang sudah tak terpakai, hingga serpihan logam berkecepatan tinggi yang melayang di ruang angkasa. Kehadiran para "pemulung luar angkasa" ini menjadi harapan baru untuk menjaga orbit Bumi tetap aman bagi ribuan satelit yang menopang kehidupan modern.

Ancaman Sampah Antariksa Kian Nyata

Selama lebih dari enam dekade manusia meluncurkan satelit dan wahana antariksa, orbit Bumi perlahan dipenuhi benda-benda yang sudah tidak berfungsi. Maka dari itu, meningkatnya jumlah satelit yang diluncurkan ke luar angkasa membuat persoalan sampah antariksa semakin serius. Menurut NASA, terdapat lebih dari 23.000 objek berukuran lebih dari 10 sentimeter yang juga melaju dengan kecepatan mencapai lebih dari 29.000 kilometer per jam mengorbit Bumi, serta ratusan ribu serpihan berukuran lebih kecil. Meski tampak sepele, benda-benda tersebut dapat melaju dengan kecepatan lebih dari 29.000 kilometer per jam, sehingga berpotensi merusak satelit aktif maupun wahana antariksa jika terjadi tabrakan. 

Lahirnya "Pemulung" di Orbit Bumi

Kondisi ini mendorong lahirnya industri baru yang berfokus pada pembersihan orbit Bumi. Salah satu pelopornya adalah perusahaan asal Jepang, Astroscale, yang mengembangkan satelit khusus untuk mendekati dan menangkap satelit yang sudah tidak berfungsi. Setelah berhasil diamankan, objek tersebut diarahkan memasuki atmosfer Bumi agar terbakar dan tidak lagi menjadi ancaman.

Sementara itu, perusahaan asal Swiss, ClearSpace, mengembangkan teknologi berbeda berupa wahana dengan empat lengan robot. Sistem ini dirancang untuk mencengkeram badan roket atau sampah antariksa lainnya sebelum membawanya keluar dari orbit. Misi ini didukung oleh berbagai lembaga antariksa, termasuk European Space Agency (ESA), yang menilai pembersihan sampah antariksa menjadi kebutuhan mendesak di masa depan.

Industri Baru

Pembersihan sampah antariksa kini mulai dipandang sebagai peluang bisnis masa depan. Seiring meningkatnya jumlah satelit yang diluncurkan, terutama untuk layanan internet global, kebutuhan menjaga orbit tetap bersih juga semakin mendesak. Bahkan lembaga antariksa seperti NASA dan European Space Agency (ESA) mulai mendorong pengembangan teknologi terhadap perbaikan satelit, bahan bakarnya, atau perpindahan dari orbit setelah berakhirnya masa beroperasi. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah limbah baru di luar angkasa.

Menjaga Masa Depan Eksplorasi Antariksa

Semakin banyak negara dan perusahaan swasta berlomba mengirimkan satelit ke luar angkasa. Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan limbah yang baik, orbit Bumi berisiko menjadi "tempat pembuangan sampah" yang membahayakan seluruh aktivitas antariksa.

Karena itu, kehadiran profesi yang dijuluki sebagai "pemulung luar angkasa" bukan lagi sekadar konsep futuristis, melainkan kebutuhan nyata. Tugas mereka bukan hanya membersihkan orbit dari benda-benda yang tak lagi berguna, tetapi juga memastikan ruang angkasa tetap aman bagi komunikasi global, penelitian ilmiah, hingga misi eksplorasi manusia ke Bulan dan Mars di masa mendatang.

(Wired/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |