Pelatih timnas Spanyol Luis de la Fuente.(AFP/Daniel LEAL)
PELATIH Tim Nasional Spanyol, Luis de la Fuente, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya setelah berhasil merengkuh trofi juara Piala Dunia 2026. Kepastian tersebut disegel usai Spanyol mengalahkan sang juara bertahan Argentina lewat skor tipis 1-0 dalam laga final yang berlangsung sengit di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat.
Keberhasilan ini sekaligus membawa Spanyol mengunci gelar kedua Piala Dunia mereka sepanjang sejarah, mengulangi pencapaian legendaris yang pertama kali diukir pada edisi 2010 silam di Afrika Selatan.
Di hadapan awak media, De la Fuente menyampaikan apresiasi mendalam terhadap komitmen luar biasa yang ditunjukkan oleh anak-anak asuhnya sepanjang turnamen bergulir. Menurutnya, kesuksesan ini merupakan buah dari proses panjang dan soliditas internal tim yang sudah menyerupai sebuah ikatan kekeluargaan.
“Saya merasa sangat bangga dengan generasi pesepakbola ini yang telah tumbuh bersama gagasan tersebut, menyempurnakannya, serta memberikan contoh tentang sebuah kelompok, sebuah keluarga,” ujar De la Fuente seperti dikutip dari laman resmi FIFA pada Senin (20/7).
Ia menambahkan bahwa menengok kembali perjalanan hebat skuadnya menembus ekspektasi tertinggi merupakan momen yang sangat emosional. “Kami telah banyak berbicara dengan para pemain. Kami telah memenangkan segalanya, dan itu sungguh luar biasa. Mereka adalah generasi pesepak bola yang menjadi kebanggaan Spanyol. Bersama-sama, kita lebih kuat,” ungkapnya.
Secara teknis jalannya pertandingan, Spanyol sebenarnya tampil sangat dominan sejak peluit pertama dibunyikan, di mana barisan penyerang lincah seperti Lamine Yamal dan kolega berulang kali merepotkan pertahanan lawan meskipun sempat terkendala penyelesaian akhir.
Sebaliknya, kubu Argentina justru tampak kehilangan arah dan kesulitan mengembangkan permainan, bahkan sang kapten Lionel Messi dan barisan penyerang Albiceleste tercatat tidak mampu melepaskan satu pun tendangan tepat sasaran ke gawang Spanyol (shot on target).
Kebuntuan baru terpecahkan saat laga memasuki babak tambahan waktu kedua, ketika sontekan terukur Ferran Torres yang memanfaatkan umpan sundulan matang Nico Williams berhasil mengoyak jala gawang Argentina.
Kendati mendominasi penuh permainan, De la Fuente mengakui bahwa laga final Piala Dunia selalu menghadirkan tekanan mental yang luar biasa bagi setiap pemain di lapangan. Ia memuji ketangguhan barisan pertahanan Argentina yang tampil habis-habisan, terutama performa apik penjaga gawang Emiliano Martinez yang jatuh bangun mengamankan gawangnya dari gempuran bergelombang armada matador selama waktu normal.
“Penyelamatan gemilang Dibu mencegah kami menang lebih awal, tetapi itu adalah final Piala Dunia dan, bahkan dengan sepuluh pemain di pengujung laga, Anda harus menderita,” pungkas De la Fuente yang menegaskan bahwa penderitaan di lapangan tersebut kini telah terbayar lunas dengan sebuah takhta tertinggi sepak bola sejagat.
(Ant/P-4)

















































