Studi Terbaru Ungkap Punya Anak Bukanlah Standar Kebahagiaan

6 hours ago 3

CANTIKA.COMJakarta - Anak sering dianggap sebagai sumber kebahagiaan yang besar. Menjadi orang tua, baik yang digambarkan dalam film maupun yang dibentuk oleh harapan masyarakat, biasanya dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa, penuh kebahagiaan dan kebahagiaan. Namun, membesarkan anak bukanlah hal yang mudah, dan gagasan tentang kebahagiaan yang terus-menerus dalam menjadi orang tua hanyalah setengah dari kebenaran.

Meskipun tidak dapat disangkal bahwa menjadi orang tua bisa terasa menyenangkan, penting untuk menyadari bahwa kenyataan tidak selalu sesempurna yang digambarkan atau diharapkan. Ini bukanlah tonggak kehidupan yang sempurna dan tak terhindarkan seperti yang dibayangkan.

Tahukah ksmu bahwa memiliki anak secara tidak langsung dapat memberikan dampak negatif yang tak terduga? Keyakinan umum bahwa menjadi orang tua secara otomatis mengarah pada kebahagiaan abadi atau kepuasan hidup yang lebih baik tidak selalu akurat.

Sebuah studi yang diterbitkan pada Januari 2026 di jurnal Evolutionary Psychology menyatakan bahwa menjadi orang tua tidak selalu menyebabkan peningkatan kebahagiaan atau kepuasan hidup. Bahkan, hal itu justru dapat memperburuk hubungan romantis.

Apa Hasil Penelitian Tersebut?

Mengapa seorang anak dilahirkan ke dunia? Di luar mengejar pemenuhan sosial atau mencapai tujuan hidup yang lebih besar, ada harapan yang lebih tenang dan kompleks yang berperan. Terkadang, seorang anak dipandang sebagai cara untuk memperbaiki keretakan dalam suatu hubungan, dengan harapan akan terciptanya stabilitas. Membesarkan anak dipandang sebagai cara untuk mengatasi perilaku menyimpang dari pasangan yang tidak tersedia, dengan keyakinan bahwa hal itu akan membuat mereka lebih serius dalam menjalin hubungan.

Studi ini membagikan perspektif penting, dengan menata ulang asumsi-asumsi tersebut berdasarkan fakta-fakta konkret.

Anak-anak tidak serta merta, dengan sekali ayunan tongkat sihir, membuat orang tua lebih bahagia atau langsung memenuhi kebutuhan emosional dan harapan hidup yang lebih luas lainnya. Sebaliknya, dampaknya sebagian besar netral. Namun, salah satu efek negatifnya adalah hubungan romantis antara orang tua dapat terpengaruh. Pada akhirnya, ikatan pasangan tersebut mungkin terpengaruh.

Salah satu peneliti dari Universitas Nicosia mencatat, “Hasilnya tidak mendukung hipotesis kami bahwa menjadi orang tua berhubungan positif dengan kesejahteraan hedonis (tingkat emosi positif) dan kepuasan hidup. ” Hal ini menantang kepercayaan umum bahwa anak-anak adalah sumber kepuasan emosional yang terjamin.

Membawa seorang anak ke dunia ini adalah sesuatu yang jauh lebih besar daripada kebutuhan emosional diri sendiri, karena kamu membesarkan seorang manusia yang terpisah dengan kehidupan dan identitasnya sendiri. Ini bukanlah sesuatu yang secara otomatis akan membuat Anda lebih bahagia, karena temuan menunjukkan bahwa dampak emosional keseluruhan dari menjadi orang tua sebagian besar tetap netral.

Sebaliknya, pengasuhan anak harus dipandang sebagai tanggung jawab yang berakar pada komitmen, kepedulian, dan disiplin. Ini bukan sarana untuk mencapai kebahagiaan pribadi.

Eksperimen dalam penelitian ini menemukan bahwa orang tua dan bukan orang tua memiliki tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup yang hampir sama. Dalam beberapa kasus, orang tua mungkin merasa sedikit lebih 'bermakna', tetapi hanya itu saja; perbedaannya sangat kecil. Karena stres dan meningkatnya tanggung jawab, ikatan pasangan dapat memburuk.

Tetapi perlu digarisbawahi, penelitian ini tidak mengatakan bahwa menjadi orang tua itu buruk, hanya saja seseorang harus lebih realistis dan berhenti mempercayainya sebagai peningkatan kebahagiaan yang ajaib.

Pilihan Editor: Ternyata Ini Usia Ideal untuk Ajak Anak Liburan Keluarga

HINDUSTAN TIMES

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |