RAKSASA teknologi Google menyatakan peningkatan penggunaan akal imitasi generatif (GenAI) turut memicu bertambahnya konten berbasis AI, spam, hingga disinformasi yang dibuat menggunakan teknologi tersebut. Untuk mengatasinya, perusahaan mengandalkan kombinasi sistem keamanan, teknologi deteksi penyalahgunaan, serta pelabelan konten AI.
Vice President Southeast Asia and South Asia Frontier Google Sapna Chadha mengatakan Google memandang inovasi dan keamanan sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. “Selama bertahun-tahun kami sudah menerapkan prinsip tersebut di seluruh produk Google, termasuk Search,” ujar Sapna dalam dalam peluncuran laporan perdana "Gemini Report: Southeast Asia 2026" yang diikuti secara daring, Selasa, 14 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sapna menjelaskan Google telah berinvestasi pada sistem kepercayaan (trust), keamanan (safety), dan rekayasa teknologi untuk menangani spam maupun berbagai bentuk penyalahgunaan, baik yang dilakukan manusia maupun menggunakan AI. Pengalaman tersebut kemudian diterapkan dalam pengembangan Gemini.
“Kami memiliki kemampuan untuk mengenali aktivitas yang bersifat berbahaya, penyalahgunaan sistem, maupun konten yang disalin berulang kali untuk mencoba mengakali sistem,” tuturnya. Kemampuan tersebut, kata Sapna, turut diterapkan pada Gemini.
Selain itu, Google mengembangkan teknologi watermark bernama SynthID yang dibuat oleh DeepMind untuk produk pembuat gambar maupun video. Teknologi tersebut dirancang agar konten hasil AI dapat diberi label sehingga lebih mudah dikenali oleh sistem maupun teknologi lain.
“Teknologi ini memastikan bahwa konten diberi label secara tepat sebagai hasil buatan AI sehingga sistem maupun teknologi lain dapat mengenalinya dan menangani kompleksitas yang semakin besar dengan lebih baik,” katanya.
Menurut Sapna, perpaduan antara teknologi dan pengalaman yang telah dibangun Google selama bertahun-tahun menjadi modal perusahaan untuk menghadapi tantangan penyalahgunaan AI.
Sebagai informasi, Google baru saja merilis laporan perdana "Gemini Report: Southeast Asia 2026" yang menunjukkan jumlah pengguna aktif aplikasi Gemini di Asia Tenggara meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir. Perusahaan juga menyebut laju pertumbuhan Gemini di kawasan menjadi yang tercepat dibandingkan peluncuran aplikasi Google lainnya.
Laporan yang menganalisis pola penggunaan Gemini di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam itu juga mencatat Indonesia sebagai salah satu negara dengan AI asisten Gemini paling banyak dicari, seiring meningkatnya pemanfaatan AI untuk bekerja, belajar, berkreasi, dan aktivitas sehari-hari.

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)















