Robot Phantom.(Dok Foundation)
SANKAET Pathak, seorang pengusaha asal San Francisco, sedang mencari peluang bisnis berikutnya yang dapat mengubah masa depan. Pilihan akhirnya jatuh pada pengembangan robot menyerupai manusia yang dipersenjatai. Melalui perusahaannya, Foundation, Pathak merilis cuplikan robot Phantom yang mampu memuat mortir, langkah yang memicu perdebatan sengit di industri teknologi dan pertahanan.
Peluncuran Foundation pada tahun 2024 dianggap sebagai langkah radikal. Selama bertahun-tahun, banyak pemimpin industri robotika menentang keras pemberian izin bagi perangkat otonom untuk menentukan target serangan tanpa persetujuan manusia. Namun, Pathak berargumen bahwa Amerika Serikat tidak boleh tertinggal saat negara lain seperti Tiongkok dan Rusia terus mengembangkan teknologi serupa.
Dorongan Politik dan Militer di Era Trump
Perdebatan mengenai senjata otonom semakin mendesak seiring dengan kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang mendorong percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di Pentagon. Trump, melalui memorandum keamanan nasional, menginstruksikan para pejabat untuk memaksimalkan kapabilitas AI guna memastikan keunggulan militer AS.
Pentagon saat ini sedang memperbarui kebijakan mengenai penyebaran senjata bertenaga AI yang memiliki kemampuan mematikan. Pejabat AS di PBB berpendapat bahwa otomatisasi justru dapat membuat penggunaan kekuatan menjadi lebih presisi dan akurat dibandingkan penilaian manusia yang sering kali cacat.
Kontrak Strategis: Foundation dilaporkan telah memegang kontrak senilai US$24 juta (sekitar Rp380 miliar) dengan Pentagon dan telah menguji coba robot mereka di medan perang Ukraina. Perusahaan ini juga mendapat dukungan dari putra presiden, Eric Trump.
Oposisi dari Pemimpin Dunia dan Pakar AI
Di sisi lain, gelombang penolakan datang dari berbagai tokoh dunia. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut ide robot yang mencabut nyawa manusia sebagai sesuatu yang secara moral menjijikkan dan menyerukan pelarangan internasional. Paus Leo XIV juga menyuarakan kekhawatiran serupa mengenai hilangnya kendali manusia dalam peperangan.
Di internal industri AI, terjadi gejolak besar:
- Anthropic: CEO Dario Amodei meminta jaminan agar sistem AI mereka, Claude, tidak digunakan untuk senjata otonom penuh karena dianggap belum cukup andal.
- OpenAI: Setuju untuk bekerja sama dengan militer tetapi dengan batasan ketat bahwa teknologi mereka tidak boleh digunakan tanpa otorisasi manusia yang sesuai.
- Protes Karyawan: Sejumlah ahli robotika mengundurkan diri, dan aksi protes terjadi di depan kantor OpenAI di San Francisco sebagai bentuk penolakan terhadap kerja sama militer.
Antara Presisi dan Risiko Kegagalan
Para pendukung senjata otonom, termasuk mantan pejabat pertahanan Michael Horowitz, menyatakan bahwa tanggung jawab manusia tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Menurutnya, militer hanya akan menggunakan sistem canggih ini dalam parameter hukum yang sudah ditentukan oleh komandan manusia.
Namun, Ryan Gariepy dari Clearpath Robotics memperingatkan risiko teknis yang nyata. Ia memberikan analogi sederhana: jika orang belum berani membiarkan robot mengelola seluruh korespondensi email mereka karena sering gagal secara tak terduga, membiarkan AI membuat keputusan hidup dan mati di medan perang ialah langkah yang sangat berbahaya.
Bagi Pathak, tujuannya tetap jelas. Ia percaya bahwa kekuatan teknologi adalah kunci menuju perdamaian.
"Anda tidak akan sampai ke sana dengan terjebak pada garis-garis arbitrer yang Anda buat sendiri. Anda sampai ke sana dengan menjadi kuat," tegasnya. (The Washington Post/I-2)

















































