Mahmoud Ahmadinejad.(Al Jazeera)
MANTAN Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, yang sebelumnya dilaporkan tewas pada awal pecahnya perang, terlihat muncul di hadapan publik saat menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Senin (6/7/2026).
Ahmadinejad, yang menjabat sebagai Presiden Iran periode 2005-2013, sempat dinyatakan meninggal dunia oleh sejumlah media lokal pada hari pertama perang meletus. Laporan tersebut muncul setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat (AS) menargetkan jajaran pemimpin di Teheran.
Media Iran saat itu meyakini Ahmadinejad tewas ketika rudal menghantam area di dekat kediamannya. Sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat atau terdengar kabarnya selama berbulan-bulan.
Namun, pada Senin waktu setempat, ia tertangkap kamera berada di tengah kerumunan pelayat di ibu kota Iran. Ahmadinejad tampak mengenakan jaket berwarna cokelat muda dengan masker yang diturunkan ke leher. Kehadirannya menandai kemunculan publik pertamanya sejak perang pecah pada Februari lalu.
Prosesi Pemakaman Besar-besaran
Lautan manusia berpakaian hitam memadati jalanan Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Peti jenazah Khamenei, bersama anggota keluarganya yang tewas dalam serangan udara pada 28 Februari, dibawa menggunakan truk yang dihias menyerupai kisi-kisi dekoratif makam imam.
Gambar dari helikopter yang disiarkan televisi pemerintah Iran menunjukkan kerumunan massa membentang bermil-mil dari Lapangan Azadi (Kebebasan) di sepanjang jalan protokol. Jumlah pelayat diperkirakan melampaui prosesi pemakaman Jenderal Qassem Soleimani pada tahun 2020 yang menarik lebih dari 1 juta orang.
Kehadiran massa dalam jumlah besar ini didorong oleh pemerintah teokrasi Iran sebagai simbol kekuatan nasional. Momentum ini terjadi di tengah negosiasi antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat mengenai penghentian perang secara permanen.
Ketegangan Diplomatik dan Keamanan
Di tengah suasana duka, para pelayat terlihat membawa plakat dan spanduk yang menyerukan kematian bagi Donald Trump. Otoritas federal AS sendiri melacak ancaman Iran terhadap Trump dan pejabat administrasinya selama bertahun-tahun, menyusul perintah Trump untuk membunuh Soleimani pada 2020.
Sementara itu, negosiasi untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dan membatalkan program nuklir Teheran yang disengketakan tampaknya sedang ditunda hingga prosesi pemakaman selesai. Iran menuntut kendali atas Selat Hormuz, jalur air vital bagi energi global yang sempat ditutup selama perang, tetapi tuntutan tersebut ditolak oleh AS.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum menampakkan diri dalam rangkaian upacara pemakaman yang berlangsung selama beberapa hari ini. Ia diyakini masih bersembunyi setelah dilaporkan terluka dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya.
Catatan Redaksi: Hingga berita ini diturunkan, proses negosiasi damai antara Iran dan AS masih berada dalam posisi buntu terkait isu program nuklir dan konflik antara Israel dengan kelompok Hizbullah di Libanon. (Daily Mail/I-2)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)













