Sejarah Perang Falkland dalam Rivalitas Inggris vs Argentina

1 week ago 6
Sejarah Perang Falkland dalam Rivalitas Inggris vs Argentina Suporter tim nasional Argentina saat memberikan dukungan dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026).(ANTARA/Michael Siahaan)

ATMOSFER di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, mendadak berubah menjadi medan energi yang meluap pada Rabu waktu setempat. Sebelum peluit pertama semifinal Piala Dunia 2026 dibunyikan, ketegangan sudah memuncak di tribun penonton.

Suporter tim nasional Inggris dan Argentina saling menyahuti dengan sorakan provokatif saat lagu kebangsaan masing-masing diperdengarkan. Fenomena ini bukan sekadar bumbu pertandingan sepak bola biasa; ini adalah manifestasi dari luka sejarah dan persaingan geopolitik yang telah mengakar selama lebih dari empat dekade.

Persaingan antara The Three Lions dan La Albiceleste sering disebut sebagai salah satu rivalitas paling sengit dalam sejarah olahraga dunia. Namun, berbeda dengan rivalitas klasik lainnya yang murni didasari prestasi teknis, hubungan Inggris dan Argentina terikat erat oleh memori kolektif Perang Falkland atau Perang Malvinas yang meletus pada tahun 1982.

Konflik bersenjata tersebut memperebutkan kedaulatan atas kepulauan di Atlantik Selatan. Bagi Argentina, kepulauan tersebut adalah Las Malvinas yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kedaulatan mereka. Bagi Inggris, wilayah itu adalah Falkland Islands, sebuah wilayah seberang laut yang harus dipertahankan. Perang yang berlangsung selama 74 hari itu meninggalkan luka mendalam bagi kedua bangsa, dengan ratusan nyawa melayang di kedua belah pihak.

Transformasi Konflik ke Sepak Bola

Hanya empat tahun setelah perang berakhir, sentimen nasionalisme tersebut meledak di lapangan hijau pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pertandingan tersebut menjadi legendaris karena dua gol Diego Maradona: gol "Tangan Tuhan" yang kontroversial dan "Gol Abad Ini" yang spektakuler.

Bagi rakyat Argentina saat itu, kemenangan atas Inggris dirasakan sebagai bentuk "balas dendam simbolis" atas kekalahan militer mereka. Sejak saat itu, setiap kali kedua tim bertemu, narasi mengenai kedaulatan, harga diri bangsa, dan memori perang selalu muncul ke permukaan, termasuk dalam pertemuan terbaru di semifinal Piala Dunia 2026.

Ketegangan di Stadion Mercedes-Benz Atlanta

Dalam laga semifinal Piala Dunia 2026, intensitas persaingan tidak memudar. Laporan dari lokasi pertandingan menunjukkan bahwa suporter kedua tim menciptakan atmosfer yang sangat intimidatif. Saling sahut saat lagu kebangsaan merupakan indikator bahwa bagi para pendukung, pertandingan ini adalah masalah kehormatan nasional.

Aspek Rivalitas Konteks Sejarah & Olahraga
Konflik Militer Perang Falkland/Malvinas (1982)
Momen Ikonik Gol Tangan Tuhan Diego Maradona (1986)
Lokasi Terkini Stadion Mercedes-Benz, Atlanta (Semifinal 2026)
Sentimen Suporter Nasionalisme tinggi, provokasi lagu kebangsaan

Provokasi Spanduk "Las Malvinas son Argentinas"

Segera setelah peluit panjang berbunyi, suasana perayaan di lapangan berubah menjadi kontroversi. Para pemain Argentina terlihat memegang dan membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas", yang secara harfiah berarti "Falkland adalah milik Argentina".

Aksi ini memicu reaksi keras karena Kepulauan Falkland, yang merupakan wilayah seberang laut Inggris di barat daya Samudra Atlantik, telah lama menjadi titik sengketa kedaulatan yang sensitif antara kedua negara. FIFA, sebagai badan pengatur sepak bola dunia, memiliki aturan ketat yang melarang penggunaan pertandingan sepak bola untuk menyampaikan pesan-pesan politik. (BBC/Ant/I-1) 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |