Rumah dan Lingkungan Tak Layak Tingkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular, Ini Penjelasannya

1 week ago 2
Rumah dan Lingkungan Tak Layak Tingkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular, Ini Penjelasannya Ilustrasi(Magnific)

BUKAN hanya pola makan, olahraga, atau kebiasaan merokok, kondisi rumah dan lingkungan sekitar juga dapat menentukan risiko seseorang mengalami penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.

Hal tersebut diungkap dalam laporan ilmiah yang diterbitkan American Heart Association (AHA) di jurnal Circulation: Cardiovascular Quality and Outcomes. Laporan tersebut merupakan tinjauan terhadap berbagai penelitian yang mengkaji hubungan antara kondisi perumahan dan lingkungan dengan kesehatan jantung.

Ketua tim penyusun laporan, Mario Sims, mengatakan ketidakamanan tempat tinggal yang berlangsung dalam jangka panjang dapat menjadi sumber stres kronis yang berdampak pada kesehatan secara menyeluruh.

"Ketidakamanan tempat tinggal yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengonsumsi makanan bergizi, mendapatkan tidur yang berkualitas, menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin, maupun menebus obat karena keterbatasan biaya," kata Sims.

Menurutnya, seseorang yang mengalami kesulitan memperoleh hunian yang layak sering kali juga menghadapi hambatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar. Kebutuhan dasar mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, mendapatkan tidur yang cukup, menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin, hingga membeli obat-obatan karena keterbatasan biaya.

Kondisi tersebut dapat membuat faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok, tidak tertangani dengan baik. Akibatnya, risiko mengalami serangan jantung maupun stroke menjadi lebih tinggi.

Kondisi Hunian Turut Menentukan Kesehatan

Laporan tersebut menjelaskan kualitas rumah menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kesehatan jantung. Hunian yang mengalami kerusakan, memiliki ventilasi yang buruk, sulit mempertahankan suhu ruangan tetap nyaman, atau terpapar polutan seperti jamur, timbal, dan asap rokok dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Sebaliknya, memperbaiki kualitas udara di dalam rumah, mengurangi kelembapan, serta menciptakan suhu ruangan yang nyaman terbukti dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Penelitian yang dirangkum dalam laporan juga menunjukkan orang yang tinggal di perumahan tua maupun kawasan berpenghasilan rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung. Selain berdampak pada kesehatan fisik, kondisi hunian yang tidak layak juga dapat memengaruhi kesehatan mental, yang diketahui memiliki kaitan erat dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Laporan itu juga menyoroti kelompok masyarakat yang mengalami tunawisma atau ketidakamanan tempat tinggal menghadapi tantangan kesehatan yang lebih besar. Tekanan psikologis, perilaku tidak sehat sebagai mekanisme menghadapi stres, serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan menjadi faktor yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada kelompok tersebut.

Lingkungan Sekitar Ikut Berperan

Selain kondisi rumah, desain lingkungan tempat tinggal juga berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.

Lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki mendorong masyarakat lebih aktif bergerak dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, akses yang mudah terhadap makanan sehat membantu masyarakat menerapkan pola makan yang lebih baik.

Kedua faktor tersebut berkaitan dengan indeks massa tubuh yang lebih sehat, tekanan darah yang lebih terkontrol, risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah, serta penurunan risiko sindrom metabolik, yakni sekumpulan kondisi yang meningkatkan peluang terjadinya penyakit jantung.

Keberadaan ruang hijau juga memberikan manfaat yang tidak kalah penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kawasan yang memiliki banyak pepohonan atau vegetasi cenderung memiliki angka kejadian diabetes tipe 2, penyakit arteri koroner, serangan jantung, hingga gagal jantung yang lebih rendah dibandingkan kawasan dengan ruang hijau yang minim.

Jurnal ini juga menyoroti bahwa ketimpangan dalam akses terhadap hunian berkualitas masih menjadi tantangan di berbagai wilayah.

Segregasi permukiman berdasarkan ras atau etnis, serta fenomena gentrifikasi, yakni perubahan kawasan akibat masuknya kelompok masyarakat berpenghasilan lebih tinggi yang mendorong warga lama berpindah, dapat menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh rumah yang layak dan terjangkau.

Laporan tersebut juga mengulas dampak krisis penyitaan rumah yang terjadi di Amerika Serikat pada 2007–2010. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat penyitaan rumah yang tinggi mengalami peningkatan berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular. Warga Hispanik di kawasan tersebut diketahui memiliki prevalensi tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi yang lebih besar, sedangkan masyarakat kulit hitam usia paruh baya mengalami peningkatan kasus serangan jantung dan stroke. (American Heart Association/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |