Replika Lukisan Cadas Liang Metanduno Diusulkan Jadi Ikon Museum Sultra

2 weeks ago 11
Replika Lukisan Cadas Liang Metanduno Diusulkan Jadi Ikon Museum Sultra Ilustrasi(Antara)

MENTERI Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengusulkan langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik Museum Sulawesi Tenggara (Sultra). Dalam kunjungan kerjanya ke Kendari pada Sabtu, Menbud menyarankan agar pengelola museum memasang replika lukisan cadas Liang Metanduno asal Kabupaten Muna sebagai ikon utama di area museum.

Fadli Zon menilai, penempatan replika lukisan gua purba tersebut di bagian plafon atau dinding ruang depan akan memberikan kesan mendalam bagi pengunjung. "Ruangan depan Museum Sultra ini bisa menjadi tempat replika lukisan gua purba itu. Ke depan bisa kita diskusikan bersama bagaimana mewujudkannya," ujar Fadli Zon.

Usulan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berkolaborasi dengan Griffith University dan Southern Cross University Australia, lukisan cadas di Sulawesi Tenggara diperkirakan berusia 67.800 tahun. Temuan ini menempatkan lukisan tersebut sebagai salah satu lukisan cadas tertua di dunia.

Menbud menegaskan bahwa temuan ini adalah bukti otentik bahwa bumi Sulawesi Tenggara menyimpan rekam jejak peradaban yang sangat tua dan bernilai tinggi. "Artinya, peradaban di Sultra sudah sangat tua. Ini adalah harta budaya yang sangat penting," sebutnya. Keberadaan replika ini diharapkan menjadi identitas kuat bagi Museum Sultra di mata dunia internasional.

Museum Sebagai Etalase Budaya

Fadli Zon menekankan bahwa fungsi museum harus bertransformasi. Museum tidak boleh lagi hanya dianggap sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah yang pasif, melainkan harus menjadi etalase budaya dan peradaban daerah yang dinamis.

Untuk mencapai target tersebut, Menbud mendorong manajemen Museum Sultra melakukan pembenahan menyeluruh, meliputi:

  • Penataan alur pameran yang lebih menarik.
  • Sistem pencahayaan (lighting) yang profesional.
  • Peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya edukator dan konservator.

Dengan pembenahan ini, diharapkan segmentasi pengunjung museum dapat meluas. Tidak hanya terbatas pada kalangan pelajar untuk keperluan studi, tetapi juga menarik minat masyarakat umum serta wisatawan domestik dan mancanegara.

Visi Menbud: "Harapannya, sebelum berkunjung ke destinasi lain di Sulawesi Tenggara, orang datang dulu ke museum sehingga bisa mengenal daerah ini."

Dukungan Anggaran dan Kolaborasi Sinergis

Terkait aspek pembiayaan, Fadli Zon menjelaskan bahwa pemerintah pusat memberikan dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik untuk pengembangan museum daerah. Namun, untuk pembangunan fisik yang membutuhkan biaya besar, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta.

Sinergi ini dianggap penting agar beban pembiayaan tidak sepenuhnya bertumpu pada APBN maupun APBD. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat perbaikan museum dan taman budaya sebagai pusat kegiatan kebudayaan yang berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. (Ant/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |