Rebutan T-Rex "Gus" Senilai Rp468 Miliar: Antara Miliarder dan Sains

1 week ago 12
Rebutan T-Rex Lelang fosil T-Rex bernama Gus memicu perdebatan sengit. Apakah fosil langka ini harus menjadi koleksi pribadi kaum super-kaya atau milik museum sains?(Matthew Sherman)

RUMAH lelang Sotheby's kembali menggelar lelang sejarah alam tahunan yang memicu perdebatan sengit di dunia sains. Kali ini, bintang utamanya adalah "Gus", salah satu spesimen Tyrannosaurus Rex (T-Rex) paling utuh yang pernah ditemukan. Bernilai jual awal hingga US$30 juta (sekitar Rp468 miliar), Gus kini menjadi incaran bukan hanya oleh para ilmuwan, melainkan juga kaum super-kaya.

Ditemukan di South Dakota, AS, Gus teridentifikasi memiliki 61% tulang yang utuh. Kondisi fisiknya menyimpan cerita sejarah yang luar biasa, termasuk bekas gigitan besar di tengkorak yang diduga akibat pertarungan sengit jutaan tahun lalu.

Namun, tingginya harga fosil ini memicu kekhawatiran besar di kalangan akademisi. Tren koleksi fosil oleh miliarder dinilai telah melambungkan harga pasar, sehingga museum-museum dunia tidak lagi mampu membelinya.

Profesor Susannah Maidment, peneliti dinosaurus dari Natural History Museum (NHM) London, menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, tidak ada yang bisa menggantikan fosil asli untuk memahami anatomi dan paleobiologi masa lalu.

"Kami sudah tersingkir dari harga pasar untuk mendapatkan akses ke banyak sekali spesimen," ujar Prof. Susannah Maidment. "Spesimen dinosaurus tidak lagi dilihat dari nilai ilmiahnya, melainkan seperti cara kita memandang karya seni sebagai sesuatu untuk dikoleksi oleh individu kaya."

Masalah Etika Sains vs Hak Pemburu Fosil

Masalah terbesar bagi dunia sains adalah aturan ketat jurnal ilmiah terkemuka yang menolak studi atas spesimen di koleksi pribadi. Jika pemiliknya bosan atau menjualnya kembali, data sains tersebut bisa hilang selamanya.

Di sisi lain, Cassandra Hatton dari Sotheby's membela nilai tinggi tersebut. Ia berargumen bahwa harga tersebut mencerminkan risiko, waktu, dan biaya besar yang dihabiskan para pemburu fosil independen. Tim penemu Gus bahkan menghabiskan waktu total enam tahun untuk menggali dan merekonstruksinya di laboratorium. Bagi Hatton, para pemburu fosil ini justru berjasa besar.

"Mereka menyelamatkan dinosaurus dari kepunahan kedua," kata Cassandra Hatton.

Pandangan ini didukung oleh Dr. Fiann Smithwick, ahli paleontologi independen. Ia menjelaskan bahwa jika fosil tidak segera digali oleh para pemburu profesional, alam dan cuaca akan menghancurkannya hingga hilang selamanya.

Meskipun Sotheby's tetap membuka pintu bagi museum untuk ikut menawar, realitas finansial menunjukkan bahwa masa depan fosil-fosil penting seperti Gus kini berada di tangan para filantropi dan miliarder dunia. (BBC/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |