BERAGAM mitos terkait vaksinasi masih berkembang di tengah-tengah masyarakat masa kini. Dokter spesialis tumbuh kembang, Rodman Tarigan menjelaskan beberapa mitos dan fakta seputar vaksinasi. Salah satunya kaitan antara ASI dan imunisasi.
ASI merupakan nutrisi terbaik bagi bayi yang diberikan secara eksklusif hingga usia 6 bulan dan berlanjut sampai 24 bulan. Di dalamnya terdapat pelbagai kandungan gizi yang dibutuhkan bayi. Mulai dari lemak, protein, karbohidrat, bahkan antibodi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Itu bisa meningkatkan imunitas, mencegah infeksi, kemudian mencegah penyakit-penyakit lain, juga mencegah alergi. Itu sangat-sangat lengkap. Bahkan dikatakan satu tetes ASI itu kandungannya sangat luar biasa," tutur Rodman, dalam seminar daring Selasa, 5 Mei 2026.
Beda Fungsi ASI dan Imunisasi
Kendati demikian, Rodman menyebut bahwa ASI hanya memberikan asupan nutrisi bagi bayi secara umum. Sedangkan untuk menjamin kesehatan bayi, imunisasi tetap wajib dilakukan, karena tidak semua kandungan yang terdapat di dalam ASI mampu mencegah penyakit-penyakit tertentu. "Targetnya tentu berbeda ya. ASI itu secara umum dan menyeluruh, tapi kalau imunisasi targetnya spesifik ke penyakit tertentu," ucapnya.
Beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan jika hanya mengandalkan asupan nutrisi dari ASI. Misalnya pertusis, difteri, tetanus, hingga polio. Kalau hanya mengandalkan kepada ASI saja sampai usia 6 bulan atau 24 bulan, tidak cukup untuk mencegah penyakit tersebut. Meski begitu, pemberian imunisasi secara lengkap sekalipun belum tentu menjamin seorang anak akan sepenuhnya terhindar dari penyakit.
Namun, Rodman mengatakan bahwa imunisasi dapat meringankan gejala ketika sakit. Selain itu, bahwa cakupan imunisasi masyarakat di lingkungan sekitar atau herd community atau kekebalan komunitas, juga turut menyumbang faktor seorang anak dapat terjangkit penyakit atau tidak.
"Anak tersebut vaksinasinya sudah lengkap. Tapi karena orang-orang di sekitarnya tadi cakupan vaksinasinya rendah, herd immunity atau kekebalan masyarakatnya pun rendah. Jadi, bisa terkena," ujar Rodman.
Mitos Vaksinasi Lainnya
Sementara itu, mitos lainnya adalah pemberian beberapa jenis vaksin dalam satu suntikan sekaligus atau imunisasi ganda (multiple injection). Hal tersebut dianggap dapat meningkatkan risiko efek samping berbahaya dan membebani sistem imun anak.
Padahal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa imunisasi ganda tidak memberikan dampak negatif pada sistem imun anak. Pemberian imunisasi ganda justru akan lebih menghemat waktu karena tak perlu datang berkali-kali untuk mendapatkan beberapa jenis vaksin. Selain itu, metode ini dinilai lebih efektif untuk meningkatkan angka cakupan imunisasi.
Mitos lainnya ketika seseorang menjaga kebersihan dan sanitasi akan menurunkan risiko terjangkit berbagai penyakit serta masalah kesehatan lainnya. Ketika seseorang rutin untuk melakukan PHBS dan mengonsumsi berbagai vitamin serta suplemen. Hal tersebut tak semata-mata akan membuatnya terhindar dari penyakit jika sama sekali tak mendapat imunisasi. Alasannya, imunisasi bersifat preventif untuk menjaga seseorang dari penyakit spesifik, seperti polio atau campak.
Beberapa orang juga meyakini bahwa kekebalan tubuh dapat dibangun melalui "kontak" langsung dengan penyakit alih-alih melalui vaksinasi. Kendati terdapat kemiripan, respons sistem imun terhadap vaksin berbeda halnya dengan infeksi yang disebabkan oleh penyakit. Contohnya ketika anak tak mendapatkan vaksin Hib dan PCV, dapat berdampak dalam jangka panjang hingga terkena infeksi radang otak. Akibatnya, anak tersebut akan mengalami gangguan kognitif, bahkan lebih-lebih lagi menyebabkan disabilitas intelektual.
Pandangan kurang tepat lain terkait vaksin ialah efek samping berupa alergi, gangguan pernapasan, dan juga auto imun pada anak yang mendapatkan imunisasi. Faktanya, vaksin tidak akan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian, tidak akan mungkin vaksin akan memicu alergi apalagi penyakit autoimun.
Isu Microchip hingga Negara Timur Tengah tak Vaksinasi
Isu terkait microchip yang terkandung dalam vaksin sempat marak sebelumnya, khususnya pada era pandemi COVID-19. Kekhawatiran pun muncul karena anggapan microchip tersebut dapat digunakan untuk melacak keberadaan seseorang yang mendapat vaksinasi. Namun secara teknis, hal tersebut mustahil untuk dilakukan mengingat proses produksi vaksin yang diawasi dengan sangat ketat.
Selain itu, imunisasi hanya ditujukan untuk anak usia dini dan remaja adalah anggapan yang keliru. Padahal di luar itu, juga terdapat imunisasi yang khusus ditujukan bagi ibu hamil dan menyusui, serta golongan lanjut usia. Bahkan, Satuan Tugas Imunisasi Dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) telah merilis rekomendasi pada 2025 ihwal imunisasi untuk orang dewasa.
Beberapa orang maupun anak-anak memang dapat mengalami demam setelah memperoleh imunisasi sebagai bentuk reaksi alami dari tubuh. Namun perlu diingat, demam tidak selalu disebabkan oleh suntikan vaksin yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, kondisi kesehatan seseorang juga turut mempengaruhi efek samping setelah mendapat suntikan vaksin.
Mitos lainnya bahwa anak dengan alergi telur ayam tidak boleh mendapatkan imunisasi campak. Hal ini dikarenakan vaksin MMR (Measles, Mumps, and Rubella) untuk mencegah penyakit campak, gondongan, dan rubella dikembangkan pada fibroblas ayam yang dikultur. Faktanya, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa vaksin MMR dapat memicu anak dengan riwayat alergi telur.
Salah satu kontroversi lainnya ialah anggapan bahwa vaksin dan imunisasi campak dapat menyebabkan autisme. Tidak ada hubungan antara kejadian autisme akibat pemberian vaksin MMR. Argumen tersebut didukung hasil salah satu studi di Denmark pada 2002 yang menyatakan hal serupa dengan melibatkan lebih dari 500.000 anak.
Isu lainnya yang beredar di masyarakat adalah Iran, Israel, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya tidak melakukan imunisasi terhadap penduduknya. Alasannya karena imunisasi dapat melemahkan tubuh penerimanya. Tentu saja, isu tersebut benar-benar keliru. Data menunjukkan bahwa cakupan penduduk yang mendapat imunisasi di negara-negara tersebut justru hampir mendekati 100 persen. Selain itu, negara-negara tersebut juga memiliki pabrik tersendiri dan telah mandiri dalam hal produksi vaksin.
Cahya Saputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor : Tetap Berikan ASI Meski Ibu Terinfeksi































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)













