Aktivitas Gunung Anak Krakatau.(Dok. Antara)
PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi terkait aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum mendapatkan verifikasi guna menghindari keresahan.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, menegaskan bahwa perkembangan aktivitas vulkanik GAK hanya disampaikan melalui kanal resmi pemerintah. Masyarakat diharapkan selalu mengacu pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami terus mengimbau warga agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta memperoleh informasi dari BPBD maupun instansi berwenang agar tidak menimbulkan keresahan,” ujar Andi di Lampung Selatan, Kamis (9/7).
Andi menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik GAK saat ini masih dipantau secara intensif, baik melalui pengamatan visual maupun instrumental. Berdasarkan catatan pada 8 Juli kemarin, sempat terjadi tujuh kali erupsi sejak tengah malam hingga pukul 12.00 WIB, namun setelah itu aktivitas kembali menurun.
“Karakter Gunung Anak Krakatau memang seperti itu. Ketika energinya habis, aktivitas akan kembali tenang sampai energi baru kembali terbentuk. Tetap waspada, tetapi masyarakat tidak perlu panik,” jelasnya.
Perbandingan dengan Kondisi 2018
Terkait kekhawatiran masyarakat akan potensi tsunami seperti yang terjadi pada 2018, Andi memaparkan perbedaan signifikan pada kondisi fisik gunung saat ini. Tinggi Gunung Anak Krakatau sekarang berada di kisaran 157 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan saat peristiwa longsoran tahun 2018 yang memicu tsunami, di mana ketinggian gunung mencapai 338 mdpl. "Pada saat itu beban di puncaknya jauh lebih besar sehingga mampu mendorong air laut hingga ke daratan. Saat ini ketinggiannya sekitar 157 mdpl. Mudah-mudahan apabila terjadi longsoran, dampaknya tidak akan sebesar yang pernah terjadi," katanya.
Hingga saat ini, ancaman yang paling berpotensi dirasakan masyarakat adalah hujan abu vulkanik, terutama jika arah angin menuju ke daratan Lampung. PVMBG menyarankan masyarakat untuk menyiapkan masker sebagai langkah antisipasi dampak paparan abu.
“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cukup menggunakan masker untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik. Hingga saat ini, belum terdapat dampak langsung yang membahayakan masyarakat,” pungkas Andi.































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)












