Presiden Prabowo Subianto.(Antara)
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan mengembalikan arah pembangunan ekonomi Indonesia ke cita-cita para pendiri bangsa dengan mengedepankan ekonomi kerakyatan dan ekonomi kekeluargaan.
Menurutnya, pengalaman selama tiga dekade terakhir menunjukkan bahwa pendekatan ekonomi neoliberal tidak mampu menghadirkan kesejahteraan bagi mayoritas rakyat.
Dalam pidatonya pada Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 di Jakarta, Minggu (12/7), Prabowo mengatakan arah pembangunan nasional selama sekitar 30 tahun terakhir terlalu dipengaruhi paham ekonomi neoliberal yang dinilainya bertentangan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.
"Di masa 30 tahun yang terakhir ini, kita melihat ekonomi Indonesia dikuasai oleh faham ekonomi neoliberal yang sesungguhnya adalah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945," kata Prabowo.
Ia menegaskan perjuangan untuk mengembalikan arah pembangunan ekonomi bukan ditujukan untuk mencari kambing hitam atas kebijakan masa lalu. Menurutnya, para elite bangsa saat itu sama-sama meyakini bahwa model pembangunan yang diadopsi dari negara-negara Barat mampu mempercepat kesejahteraan masyarakat.
Namun, setelah lebih dari tiga dekade berjalan, Prabowo menilai harapan tersebut tidak terbukti. Ia mengaku sejak awal telah mengingatkan bahwa kapitalisme neoliberal tidak akan mampu menghadirkan kemakmuran bagi rakyat secara luas.
Prabowo menilai salah satu kelemahan utama neoliberalisme adalah keyakinan bahwa kekayaan yang terkonsentrasi pada kelompok kecil pada akhirnya akan mengalir kepada masyarakat luas melalui mekanisme trickle down effect. Menurutnya, teori tersebut tidak terbukti dalam praktik.
"Paham Neolib itu mengatakan, biarlah yang kaya hanya 1%. Kalau mereka kaya, nanti lama-lama kekayanya akan menetes ke bawah. Trickle down effect. Saya tanya, kalian percaya tidak akan menetes ke bawah?" ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa negara-negara Barat yang selama ini menjadi rujukan justru mulai meninggalkan pendekatan tersebut. Karena itu, ia mempertanyakan masih adanya kalangan di Indonesia yang tetap mempertahankan paradigma neoliberalisme ketika pemerintah berupaya menjalankan kebijakan yang memperkuat kepentingan nasional.
Meski mengakui berbagai kritik dan serangan terhadap kebijakan pemerintah, Prabowo menegaskan pemerintah tidak akan mengubah arah. Menurutnya, penguatan ekonomi nasional harus tetap dijalankan demi kepentingan rakyat dan sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.
Prabowo mengibaratkan perubahan arah kebijakan ekonomi seperti mengobati penyakit. Menurutnya, akar persoalan harus dikenali terlebih dahulu agar solusi yang diberikan benar-benar menyelesaikan masalah.
Ia memastikan pemerintah akan tetap konsisten menjalankan agenda pembangunan yang berpihak kepada rakyat dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
"Kita berada di jalan pendiri-pendiri bangsa kita. Kita berada di jalan yang lurus. Membela rakyat, kehormatan bagi bangsa Indonesia. Membela rakyat, kehormatan bagi setiap patriot. Saya tidak akan ragu-ragu, saya akan terus untuk membela dan memperkuat bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia," pungkas Prabowo. (E-4)

















































