Ilustrasi--Seorang anak berenang antara sampah yang mengapung di laut di Pantai Kalumata Ternate, Maluku Utara, Jumat (15/11/2024).(ANTARA/Andri Saputra)
KONDISI pencemaran laut di Indonesia kini berada pada level yang semakin memprihatinkan. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Etty Riani, mengungkapkan bahwa pencemaran tidak lagi hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan, tetapi telah meluas hingga ke wilayah pesisir yang jauh dari pusat aktivitas manusia.
Menurut pakar pencemaran lingkungan dan ekotoksikologi ini, mayoritas polutan yang mencemari lautan justru berasal dari daratan. Limbah domestik, aktivitas industri, sektor pertanian, hingga sampah yang terbawa aliran sungai menjadi kontributor utama rusaknya kualitas air laut.
"Selain menurunkan kualitas air, pencemaran juga menyebabkan kerusakan ekosistem penting seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang merupakan habitat vital bagi berbagai biota laut," ujar Prof Etty.
Ancaman Mikroplastik dan Rantai Makanan
Salah satu sorotan utama dalam krisis ini adalah sampah plastik. Berdasarkan berbagai penelitian di wilayah pesisir, plastik menjadi penyumbang terbesar pencemaran. Persoalan ini menjadi sangat serius karena sifat plastik yang sulit terurai dan mampu bertahan hingga ratusan tahun di lingkungan.
Seiring berjalannya waktu, plastik akan terfragmentasi menjadi partikel yang jauh lebih kecil, yakni mikroplastik dan nanoplastik. Partikel ini kini telah ditemukan di berbagai elemen laut, mulai dari sedimen hingga biota yang dikonsumsi manusia.
| Jenis Sampah Dominan | Kemasan sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, jaring, dan tali plastik. |
| Lokasi Temuan Mikroplastik | Air laut, sedimen dasar laut, dan garam. |
| Biota Terdampak | Ikan, kerang, udang, dan teripang. |
Dampak Jangka Panjang: Ekonomi dan Kesehatan
Prof Etty memperingatkan jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan serius dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, dampaknya akan sangat luas. Penurunan produktivitas perikanan akibat rusaknya habitat akan mengancam ketahanan pangan nasional.
Dari sisi ekonomi, nelayan akan menjadi kelompok yang paling terdampak karena penurunan jumlah dan kualitas hasil tangkapan. Selain itu, sektor wisata bahari diprediksi akan lesu seiring dengan menurunnya estetika dan kualitas lingkungan pesisir.
Langkah Nyata Masyarakat untuk Mencegah Pencemaran Laut:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai (tas belanja dan botol minum sendiri).
- Melakukan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.
- Mengolah sampah organik menjadi kompos.
- Tidak membuang sampah ke aliran sungai maupun area pantai.
- Berpartisipasi aktif dalam aksi bersih sungai dan pantai.
Sebagai penutup, Prof Etty menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat luas.
"Dengan begitu, kita dapat mewariskan ekosistem laut yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," pungkasnya. (Z-1)

















































