Pencarian KLM Nurul Salsa yang dudga tenggelam di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Kamis (16/7/2026).(Dok Basarnas)
PENCARIAN terhadap KLM Nurul Salsa serta para penumpang yang diduga tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Rabu (15/7) siang, dilanjutkan hingga hari ini.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan tim SAR gabungan langsung dikerahkan begitu laporan diterima.
Operasi pencarian melibatkan Tim Rescue Pos SAR Selayar, Tim Rescue Kantor Basarnas Makassar, TNI AL (termasuk KRI Marlin-877 yang masih dalam perjalanan dari Makassar), ABK KM Harapan Kita, BPBD Selayar, Syahbandar, SROP Selayar, Polair, serta kapal-kapal nelayan.
KM Harapan Jaya, kapal berbendera Surabaya yang kebetulan sedang berada di sekitar lokasi, juga dikerahkan membantu pencarian. Kapal berukuran besar ini dinilai mampu menembus ombak tinggi dan bahkan memungkinkan untuk menarik KLM Nurul Salsa apabila berhasil ditemukan.
Informasi terakhir menyebutkan tim pencarian sempat melihat cahaya diduga dari kapal di sebelah barat Pulau Polassi, lalu bergerak mengeceknya. Setelah itu kabar terputus akibat minimnya jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut.
Saat ini, pencarian difokuskan di sekitar lokasi kejadian dan area yang telah ditentukan berdasarkan perhitungan Search and Rescue Planning (Sarmap).
"Kami mohon doanya, mudah-mudahan tim SAR gabungan bisa secepatnya menemukan korban yang masih dalam pencarian," tutup Arif.
Data terkini yang dihimpun dari tim SAR gabungan mencatat total orang di atas kapal mencapai 74 orang, jauh melampaui angka awal yang dilaporkan sebanyak.
Dari jumlah itu, 41 orang dievakuasi oleh KM Harapan Kita pada Kamis dini hari sekitar pukul 04.00 Wita, sementara 6 lainnya diselamatkan oleh kapal nelayan di sekitar lokasi dan dievakuasi ke Pulau Polassi.
Berdasarkan manifes yang diperoleh dari agen penjualan tiket di Pelabuhan Jampea, KLM Nurul Salsa tidak hanya mengangkut penumpang. Kapal kayu tersebut membawa muatan total sekitar 17 ton berupa hasil bumi, seperti 10 ton beras, 2 ton kopra, dan 5 ton arang. Selain itu, terdapat empat ekor sapi serta enam unit sepeda motor.
Kapal berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar pada Rabu (15/7) sekitar pukul 05.00 Wita. Namun di tengah perjalanan, di perairan antara Nambolaki dan Bahuluang yang dikenal sebagai titik pertemuan arus Barat dan Timur mesin kapal mengalami gangguan dan padam total.
Air mulai masuk ke ruang mesin, meski awak sempat berusaha mengatasinya dengan pompa alkon. (LN/E-4)

















































