Parade Kebaya Songket Pecahkan Rekor MURI, KOWANI Ajak Perempuan Indonesia Lestarikan Budaya

6 days ago 4
Parade Kebaya Songket Pecahkan Rekor MURI, KOWANI Ajak Perempuan Indonesia Lestarikan Budaya (DOK PIM)

KETUA Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Periode 2024-2029, Nannie Hadi Tjahjanto mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7/2026). 

Kegiatan yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatra Selatan itu berhasil memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori 'Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak'. Sejak pagi, ribuan perempuan dari berbagai organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum memadati kawasan Car Free Day Palembang. 

Dengan mengenakan kebaya yang dipadukan dengan beragam motif songket khas Sumatra Selatan, para peserta berjalan bersama melintasi Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) hingga Jembatan Ampera, menghadirkan panorama budaya yang menjadi simbol persatuan sekaligus promosi wastra Nusantara.

Dalam sambutannya, Nannie menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Perempuan Indonesia Maju (PIM), Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak PKK, Dharma Pertiwi, Dekranasda, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Dharma Wanita Persatuan, serta puluhan organisasi perempuan lainnya yang telah bersatu menyukseskan peringatan Hari Kebaya Nasional sekaligus pemecahan Rekor MURI. Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi perempuan menunjukkan kuatnya semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian perempuan Indonesia dalam menjaga warisan budaya bangsa.

“Atas nama Kongres Wanita Indonesia, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, pimpinan organisasi, dan seluruh perempuan Indonesia yang terus menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, melestarikan budaya bangsa, serta berkontribusi mewujudkan perempuan Indonesia yang maju, mandiri, berdaya, berintegritas, dan berkarakter,” ujar Nannie.

Secara khusus, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatra Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, Hj Helen Ganefo, yang dinilainya berhasil mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan budaya berskala nasional tersebut hingga berlangsung sukses dan mencatatkan Rekor MURI.

Menurut Nannie, keberhasilan menghadirkan ribuan perempuan berkebaya dan berkain songket dalam satu gerakan budaya merupakan hasil kerja keras, dedikasi, serta kolaborasi yang dibangun bersama seluruh panitia, organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan. “Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Hj Helen Ganefo selaku Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju Sumatra Selatan sekaligus Ketua Pelaksana, beserta seluruh jajaran panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi sehingga peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 ini dapat berlangsung dengan sangat baik dan berhasil mencatatkan Rekor MURI,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T Koentjoro, beserta Tim Nasional Kebaya Indonesia dan seluruh pegiat kebaya yang dinilainya telah berjuang tanpa lelah hingga lahirnya Hari Kebaya Nasional. “Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Lana T Koentjoro yang telah memperjuangkan Hari Kebaya Nasional. Perjuangan itu membuktikan bahwa ketika perempuan Indonesia bersatu, memiliki visi yang sama, dan bergerak secara konsisten, sebuah gagasan mampu menjadi gerakan nasional yang diakui negara,” ungkapnya.

Nannie menegaskan bahwa Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial ataupun peragaan busana, melainkan momentum untuk memperkuat identitas nasional. “Kebaya bukan hanya busana. Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia,” tambah Nannie. 

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T Koentjoro, mengatakan Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan panjang berbagai organisasi perempuan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kebaya sebagai identitas budaya bangsa.
“Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan bersama berbagai organisasi perempuan. Penetapan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menjadi tonggak penting, tetapi tanggung jawab kita adalah memastikan kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Pemprov Sumsel. Mewakili Gubernur Sumsel Herman Deru, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatera Selatan, Apriyadi Mahmud menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket yang dirangkaikan dengan pemecahan Rekor MURI.
Ia mengapresiasi Perempuan Indonesia Maju, panitia, serta seluruh organisasi perempuan yang telah menginisiasi kegiatan budaya berskala nasional tersebut. “Sejak pagi para peserta mengikuti parade berkebaya dan berkain songket hingga berkumpul di lokasi acara dalam rangka pemecahan Rekor MURI. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia yang patut kita apresiasi,” kata Apriyadi.

Keberhasilan memecahkan Rekor MURI, menurutnya, bukan sekadar prestasi, tetapi juga momentum untuk semakin memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai daerah yang aktif menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia. (H-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |