Logo Netflix(AFP/Mario Tama/Getty Images)
DIRECTOR of Global Affairs Southeast Asia Netflix, Ruben Hattari, mengungkapkan bahwa konten kategori keluarga terus menunjukkan performa positif di kancah internasional. Dalam empat tahun terakhir, film keluarga secara konsisten menempati posisi di daftar peringkat Global Top 10 Netflix setiap minggunya.
"Di Netflix itu ada yang kami sebut Global Top 10. Selama empat tahun terakhir, pasti ada film keluarga yang muncul setiap minggunya di Global Top 10 itu," ujar Ruben dalam acara temu media di Jakarta, Sabtu (11/7).
Capaian ini, menurut Ruben, menjadi sinyal kuat bagi platform untuk memperluas kolaborasi dengan kreator film lokal. Tujuannya adalah menghadirkan lebih banyak konten yang relevan dan dapat dinikmati bersama oleh keluarga Indonesia. Data internal menunjukkan bahwa penonton di Indonesia memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan karya sineas dalam negeri.
Ruben menjelaskan bahwa sekitar 90% pelanggan Netflix di Indonesia tercatat pernah menonton film lokal. Uniknya, kebiasaan menonton di tanah air cenderung dilakukan secara bersama-sama di rumah, yang ia nilai sebagai refleksi dari budaya lokal.
"Ini mungkin yang unik dari budaya Indonesia, mungkin ini adalah irisan dari budaya gotong royong, kita sering menontonnya bersama," imbuhnya.
Data Statistik Netflix (Konteks Indonesia & Global)
| Pelanggan Indonesia menonton film lokal | 90% |
| Kontribusi konten anak terhadap total tontonan (2025) | 22% |
| Frekuensi film keluarga di Global Top 10 | Setiap minggu (4 tahun terakhir) |
Komitmen Perlindungan Anak dan Ruang Digital Aman
Selain tren tontonan, Netflix juga menyoroti pentingnya keamanan digital bagi pengguna usia dini. Ruben menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025, konten anak-anak menyumbang sekitar 22 persen dari total konsumsi tontonan di platform tersebut. Untuk mendukung hal ini, Netflix telah menyediakan kategori khusus "Kids and Family" serta fitur kontrol orang tua yang memungkinkan penyesuaian tontonan berdasarkan umur.
Dalam kesempatan tersebut, Ruben turut memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah Indonesia yang menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang dikenal sebagai PP Tunas.
Ia menegaskan bahwa menciptakan ruang digital yang aman bagi anak merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan berbagai pihak.
"Ini sesuatu yang saya rasa bukan tugas sepihak dari pemerintah, tapi tugasnya layanan seperti kami, Netflix, tugasnya kreator, karena kita sering bekerja sama dengan kreator, dan tentu keluarga," pungkas Ruben. (Ant/Z-1)

















































