Momen Daun Pisang Gantikan Wadah Plastik, tapi Ada Syaratnya

6 hours ago 4

HARGA plastik kian melonjak dampak krisis bahan bakar minyak gara-gara perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Pakar Lingkungan Universitas Airlangga (Unair), Rizkiy Amaliyah Barakwan, menilainya sebagai momen yang baik bagi lingkungan. 

Menurut Rizkiy, plastik memang kerap digunakan sebagai wadah penyimpan bahan makanan. Namun, plastik tidak ramah lingkungan karena susah terdekomposisi dan partikel mikroplastik juga berbahaya bagi tubuh manusia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Rizkiy melanjutkan, momen kenaikan harga plastik dapat menjadi titik awal untuk memberi tempat kepaa kemasan yang ramah lingkungan. Seperti kertas yang bisa didaur ulang dan daun pisang. Keduanya disebut Rizkiy memiliki biodegradabilitas tinggi. "Dapat terdekomposisi dalam hitungan minggu, sehingga mengurangi pencemaran lingkungan,” kata dosen Teknik Lingkungan Unair itu.

Rizkiy mengatakan bahwa penggunaan wadah ramah lingkungan juga meninggalkan jejak karbon lebih rendah dan mendukung ekonomi sirkular. Jika dikelola dengan benar, dia menambahkan, kesadaran kolektif masyarakat untuk beralih ke wadah ramah lingkungan bisa meningkat. Sehingga, nantinya inovasi kemasan non plastik dari produk lokal bisa didorong.

Dampak lanjutannya adalah membuka peluang untuk keluar dari ketergantungan struktural terhadap material berbasis fosil seperti plastik. “Ini penting karena sustainability atau keberlanjutan tidak hanya digerakkan oleh regulasi pemerintah, tetapi juga oleh permintaan pasar,” tutur alumnus Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Kendati demikian, Rizkiy menilai bahwa momen ini tidak otomatis berujung positif. Dia menyebut syarat dukungan standarisasi dan edukasi terkait higienitas, keamanan pangan, pemilihan pangan, dan dukungan kebijakan pemerintah dalam memperluas praktik ramah lingkungan. Dukungan kebijakan itu misalnya insentif untuk UMKM yang beralih ke kemasan ramah lingkungan. 

Rizkiy menambahkan, pemerintah harus memberi edukasi kepada konsumen dan pelaku usaha agar tidak sekadar mengganti bahan, tetapi juga memahami pengelolaan limbah. Selain itu, inovasi sistem pengolahan dibutuhkan supaya bahan biodegradable dapat benar-benar kembali ke lingkungan.

Hal yang tidak kalah penting, menurut Rizkiy, adalah pendekatan life cycle thinking, yakni memastikan solusi tidak menimbulkan dampak baru. Bahkan kalau perlu menerapkan tanpa kemasan. "Misalnya, memberikan diskon jika pelanggan membawa wadah sendiri, menggunakan sistem refill atau isi ulang, dan transparan kepada konsumen jika ada biaya tambahan akibat kenaikan harga,” kata Rizkiy.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |