Ilustrasi(Doc NASA Space Place)
SELAMA puluhan tahun, para astronom dihadapkan pada teka-teki astronomi yang mengganjal: keberadaan unsur perak di Matahari yang dinilai jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya. Padahal, secara teoritis, Matahari dan meteorit di tata surya kita terbentuk dari awan gas dan debu raksasa yang sama sekitar 4,6 miliar tahun lalu.
Meteorit kuno yang berfungsi sebagai kapsul waktu alami menjadi tolok ukur komposisi kimia awal tata surya. Namun, setiap kali ilmuwan mengukur kandungan perak pada Matahari, angkanya selalu konsisten berada di bawah perkiraan.
Kini, misteri janggal tersebut akhirnya berhasil terpecahkan. Penelitian yang dipimpin oleh Sema Caliskan dari Universitas Uppsala, Swedia, mengungkapkan bahwa perak di Matahari sebenarnya tidak pernah hilang. Kesalahan selama ini terletak pada metode pemodelan yang kurang akurat dalam membaca spektrum cahaya Matahari.
Untuk mengetahui kandungan sebuah bintang, astronom mengamati garis spektrum cahaya yang diserap oleh atom-atom unsur di atmosfer bintang. Setiap unsur memiliki "sidik jari" berupa garis penyerapan spektrum khusus.
Namun, model atmosfer Matahari yang digunakan oleh para ilmuwan sebelumnya dinilai terlalu disederhanakan dan mengabaikan dinamika lapisan luar Matahari yang sangat turbulen. Selain itu, interaksi fisika atom perak terhadap cahaya sekitar juga belum dihitung secara presisi.
Dengan menerapkan pemodelan atmosfer baru yang jauh lebih kompleks dan realistis, tim peneliti memperhitungkan secara mendalam bagaimana atom perak berinteraksi dengan cahaya di lapisan luar Matahari yang dinamis.
Hasil kalkulasi ulang tersebut membawa kejutan besar, kandungan perak di Matahari ternyata 55 persen lebih banyak dari estimasi yang diyakini sebelumnya. Lonjakan angka 55 persen ini secara otomatis menyelaraskan kadar perak Matahari dengan komposisi kimia pada meteorit purba, sehingga ketidaksesuaian yang memusingkan para ahli selama puluhan tahun resmi teratasi.
"Pengetahuan baru tentang komposisi Matahari ini sangat penting untuk memahami bintang, planet, dan materi kosmik lainnya, karena Matahari adalah salah satu titik acuan utama dalam astronomi," ujar Sema Caliskan, penulis utama studi tersebut.
Temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics ini memiliki arti penting bagi dunia astronomi. Karena pemodelan baru ini terbukti berhasil pada Matahari, para peneliti berencana menerapkan metode yang sama untuk mempelajari bintang-bintang lain dengan berbagai variasi usia dan jenis.
Langkah ini diharapkan dapat membantu ilmuwan melacak asal-usul pembentukan perak di alam semesta serta bagaimana unsur berat tersebut tersebar di seluruh galaksi Bima Sakti sepanjang sejarah waktu.
Sumber: Gizmodo, Universe Today

















































