Ilustrasi(ANTARA)
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menerima dokumen Berita Acara Suara Anak Indonesia (SAI) 2026 dari perwakilan Forum Anak Nasional (FAN) pada penutupan Lokakarya FAN 2026, Minggu (19/7). Dokumen tersebut memuat aspirasi, kebutuhan, dan harapan anak-anak Indonesia yang dihimpun secara berjenjang mulai dari tingkat desa atau kelurahan hingga nasional sebagai bahan masukan bagi penyusunan kebijakan yang berpihak pada anak.
Menteri PPPA mengapresiasi proses panjang yang ditempuh anak-anak dari berbagai daerah untuk menyusun SAI. Menurutnya, hasil yang disampaikan tidak hanya perlu didengar, tetapi juga harus ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan.
"Saya sangat terharu dengan apa yang telah dilakukan oleh anak-anak dari seluruh Indonesia, mulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai nasional. Suara anak-anak ini bukan hanya untuk didengarkan, tetapi butuh kerja dan aksi nyata dari pemangku kepentingan di seluruh Indonesia. Calon-calon pemimpin masa depan memang harus tahu apa yang terjadi di lapangan dan apa yang mereka rasakan, dan ini telah dilakukan oleh anak-anak kita dalam penyusunan SAI," kata Menteri PPPA.
Lokakarya FAN 2026 yang mengusung tema Merangkai Partisipasi Anak yang Bermakna telah berlangsung selama sebulan menjelang peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk meningkatkan kapasitas, berdiskusi, serta merumuskan berbagai persoalan yang mereka hadapi menjadi 12 poin prioritas dalam SAI.
Penyusunan dokumen itu juga melibatkan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), termasuk anak penyandang disabilitas, sehingga prosesnya mengedepankan prinsip partisipasi yang inklusif. Rencananya, SAI akan dibacakan pada puncak peringatan HAN di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, serta pada Festival Budaya Anak di Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok.
Menteri PPPA menilai proses penyusunan SAI turut mengajarkan anak-anak pentingnya menghargai perbedaan pendapat hingga menghasilkan kesepakatan bersama.
"Di sini ada poin penting bagaimana kita belajar menghargai dan menghormati pendapat orang lain sehingga menjadi satu kesimpulan bersama, hingga akhirnya kita mendapatkan SAI Tahun 2026," ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian PPPA akan memfasilitasi anak-anak untuk menyampaikan langsung isi SAI kepada kementerian dan lembaga terkait melalui program Kemudi. Program tersebut diharapkan menjadi jembatan agar aspirasi anak dapat dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan publik.
"Kami berharap anak-anak ini bisa langsung menyampaikan kepada menteri atau pimpinan lainnya mengenai apa yang sesungguhnya diharapkan. Kami berharap apa yang disampaikan oleh anak-anak secara langsung akan mengubah dan menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak kita. Suara anak ini adalah amanat konstitusi. Jadi, mendengarkan suara anak bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban bagi negara dan menjadi tanggung jawab bersama," tegas Arifah.
Pada kesempatan yang sama, CEO & Chairperson Save the Children, Dessy Kurwiany Ukar, menegaskan bahwa anak-anak perlu dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka. Ia menyebut organisasinya telah mendampingi Kementerian PPPA selama tiga tahun terakhir dalam penyusunan SAI agar suara anak dari seluruh provinsi, termasuk AMPK, dapat tersampaikan kepada pemerintah.
"Hari ini adalah kesempatan berharga untuk kalian berbicara jujur tentang apa yang dirasakan, dipikirkan, dan diharapkan. Proses menyampaikan suara anak merupakan sesuatu yang tidak mudah. Banyak diskusi dan pendapat yang harus disatukan, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga tingkat nasional, tetapi justru di situlah kita belajar bahwa setiap suara memiliki arti," kata Dessy.
Dessy berharap seluruh aspirasi yang telah dihimpun tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan menjadi dasar dalam pemenuhan hak-hak anak di Indonesia.
"Mari terus saling mendukung agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, peduli, dan berani menghadapi tantangan zaman, terutama tantangan di dunia digital dan perubahan iklim. Teruslah bermimpi anak-anakku, teruslah belajar dengan keras, dan teruslah bersuara untuk hal-hal baik. Ketika anak didengar, masa depan Indonesia akan menjadi lebih kuat dan lebih cerah," imbuhnya.
Apresiasi juga disampaikan Chief Child Protection UNICEF Indonesia, Muhammad Rafiq Khan. Ia menilai Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen dalam menghadirkan ruang yang aman bagi anak, termasuk di ruang digital. Menurutnya, rangkaian lokakarya yang digelar menjelang HAN 2026 telah membekali anak-anak dengan berbagai keterampilan penting, mulai dari perlindungan diri, dukungan terhadap kesehatan mental, hingga keberanian menyampaikan pendapat.
"Beberapa minggu terakhir, anak-anak telah mengikuti berbagai kegiatan, peningkatan kapasitas, dan lokakarya. Anak-anak belajar bagaimana melindungi diri sendiri dan teman dari kekerasan. Anak-anak juga belajar saling mendukung kesehatan mental, serta berani menyuarakan hal-hal yang penting. Ini bukan hal yang mudah dan dibutuhkan keberanian. Hari ini anak-anak telah membuktikannya. Kami ingin memastikan UNICEF akan terus ada bersama anak-anak untuk mendukung, mendengarkan, dan memastikan suara anak-anak didengar serta dipertimbangkan," pungkas Rafiq. (H-2)

















































