Menlu Iran Sebut Perjanjian Damai Terdiri 2 Tahap Finalisasi

6 hours ago 3

MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri secara permanen perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini berada pada titik yang paling dekat untuk tercapai. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya aktivitas diplomatik antara Teheran dan Washington serta munculnya harapan akan terobosan dalam perundingan yang difasilitasi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam unggahan di media sosial X pada Jumat, 12 Juni 2026, Araghchi menyebut peluang tercapainya kesepakatan belum pernah sebesar saat ini. Namun, ia menegaskan bahwa dokumen kesepakatan tersebut belum ditandatangani.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran mencakup dua tahap finalisasi. Meskipun belum ditandatangani, kesepakatan damai yang sedang dipertimbangkan terdiri dari penandatanganan nota kesepahaman dan negosiasi mengenai beberapa isu.

“Pertama, pertempuran harus dihentikan, termasuk serangan Israel di Libanon. Program nuklir Iran, pencabutan sanksi, dan pencairan aset akan dibahas pada tahap kedua,” kata Araghchi seperti dilansir Press TV, dikutip dari Al Jazeera pada Jumat, 12 Juni 2026. 

Dia menambahkan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali Iran dan Oman. selain itu, Araghchi mengatakan bahwa nota kesepahaman awal masih dalam proses peninjauan. 

Dalam sebuah unggahan di sosial media X, Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa semua pihak harus menyepakati poin-poin utama proposal nota kesepahaman.

“Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada jika, tidak ada tetapi, tidak ada alasan lain. Untuk kesepakatan yang akan datang, tidak ada cara lain,” tulis Ghalibaf di X.

Sementara itu, salah satu pejabat senior Amerika Serikat mengatakan kepada wartawan di hari yang sama dengan pernyataan Araghchi. Ia mengatakan kesepakatan damai dengan Iran belum sepenuhnya rampung, tetapi hampir final.

Pejabat itu menambahkan isi nota kesepahaman tersebut akan mencakup pencabutan sanksi dan pencairan aset Iran.

Namun, Iran tidak akan langsung menerima imbalan setelah penandatanganan naskah damai, hal ini bergantung pada kepatuhan Iran.

Pejabat itu menegaskan kembali pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance bahwa pencairan aset Iran yang dibekukan tidak akan dilakukan segera setelah tercapainya kesepakatan awal. “Negosiasi teknis lebih lanjut soal beberapa isu akan dimulai setelah penandatangan kesepakatan awal,” kata dia.

Ancaman dan Diplomasi

Gejolak diplomatik terbaru ini terjadi setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan selama dua hari pekan ini. Aksi saling serang itu dinilai mengancam gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sejak 8 April. 

Dalam beberapa waktu terakhir, Trump dan para pendukungnya kerap menyampaikan pesan yang saling beriringan, yakni tekanan terhadap Iran melalui ancaman militer sekaligus optimisme bahwa kesepakatan gencatan senjata jangka panjang dapat segera terwujud.

Pada Kamis, 11 Juni 2026, Trump mengancam akan merebut Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak Iran. Namun hanya beberapa jam kemudian, ia menyatakan telah membatalkan rencana gelombang ketiga serangan AS karena melihat peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |