Mengenal Lukisan Cadas Liang Metanduno: Jejak Peradaban Tertua di Dunia

2 weeks ago 11

INDONESIA kembali mempertegas posisinya sebagai pusat peradaban prasejarah dunia melalui temuan arkeologis di Sulawesi Tenggara. Salah satu situs yang kini menjadi sorotan utama adalah Liang Metanduno, sebuah gua yang menyimpan kekayaan berupa lukisan cadas (rock art) kuno. Situs ini tidak hanya menjadi objek penelitian ilmiah, tetapi juga diusulkan menjadi ikon budaya nasional yang merepresentasikan identitas sejarah Bumi Anoa.

Dalam kunjungan kerjanya ke Museum Sulawesi Tenggara (Sultra) di Kendari pada Sabtu (Juli 2026), Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon memberikan perhatian khusus terhadap potensi besar lukisan cadas Liang Metanduno. Beliau mengusulkan agar pengelola museum memasang replika lukisan tersebut di bagian plafon atau dinding ruang depan museum.

Langkah ini bertujuan untuk:

  • Membangun Identitas Kuat: Menjadikan replika lukisan purba sebagai wajah utama Museum Sultra.
  • Daya Tarik Wisata: Menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga wisatawan mancanegara.
  • Edukasi Publik: Memberikan gambaran visual mengenai kekayaan sejarah Sultra sebelum wisatawan mengunjungi situs aslinya di Kabupaten Muna.

"Harapannya, sebelum berkunjung ke destinasi lain di Sulawesi Tenggara, orang datang dulu ke museum sehingga bisa mengenal daerah ini," ujar Menbud Fadli Zon.

Signifikansi Arkeologis: Lukisan Cadas Tertua di Dunia

Berdasarkan data yang disampaikan, lukisan cadas di Sulawesi Tenggara, termasuk yang ditemukan di kawasan Liang Metanduno, diperkirakan memiliki usia yang sangat fantastis, yakni mencapai 67.800 tahun. Angka ini menempatkan temuan tersebut sebagai salah satu lukisan cadas tertua di dunia, melampaui usia lukisan-lukisan gua terkenal di Eropa.

Kolaborasi Riset Internasional

Keabsahan usia dan nilai sejarah situs ini didukung oleh penelitian komprehensif yang melibatkan lembaga-lembaga kredibel, antara lain:

  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
  • Griffith University, Australia.
  • Southern Cross University, Australia.

Temuan ini membuktikan secara otentik bahwa peradaban di Sulawesi Tenggara telah eksis sejak puluhan ribu tahun yang lalu, menjadikan wilayah ini sebagai "harta karun" budaya yang tak ternilai harganya bagi ilmu pengetahuan global.

Karakteristik dan Motif Lukisan

Meskipun detail spesifik mengenai motif di Liang Metanduno terus divalidasi oleh para ahli, secara umum lukisan cadas di kawasan Muna memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan situs lain di Indonesia (seperti di Maros-Pangkep). Beberapa elemen yang sering ditemukan dalam tradisi lukisan gua di wilayah ini meliputi:

Kategori Deskripsi Umum
Teknik Pewarnaan Penggunaan pigmen oker merah yang tahan lama terhadap cuaca dan waktu.
Motif Figuratif Penggambaran aktivitas manusia, perburuan, dan interaksi dengan fauna purba.
Simbolisme Representasi spiritualitas dan cara pandang manusia purba terhadap alam semesta.

Museum sebagai Etalase Peradaban

Menbud Fadli Zon menekankan bahwa museum di era modern tidak boleh hanya menjadi tempat penyimpanan benda mati. Museum harus bertransformasi menjadi "etalase budaya" yang hidup. Dengan menghadirkan replika Liang Metanduno, Museum Sultra diharapkan dapat bercerita lebih banyak tentang evolusi manusia dan kebudayaan di nusantara.

Upaya ini juga sejalan dengan strategi pengembangan pariwisata berbasis sejarah (heritage tourism). Dengan mempromosikan Liang Metanduno, Sulawesi Tenggara tidak hanya dikenal karena keindahan alam lautnya (seperti Wakatobi), tetapi juga karena kedalaman sejarahnya yang mendunia.

Kesimpulan

Lukisan cadas Liang Metanduno adalah bukti nyata bahwa Indonesia merupakan titik penting dalam sejarah migrasi dan perkembangan kognitif manusia purba. Dukungan pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan untuk mempopulerkan situs ini melalui Museum Sultra merupakan langkah strategis dalam melestarikan sekaligus mempromosikan kekayaan intelektual bangsa ke kancah internasional.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Di mana lokasi Liang Metanduno?
Liang Metanduno terletak di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara.

2. Berapa usia lukisan cadas di sana?
Berdasarkan penelitian BRIN dan universitas mitra, lukisan tersebut diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun.

3. Mengapa lukisan ini sangat penting?
Karena merupakan salah satu bukti tertua aktivitas seni manusia di dunia, yang menunjukkan tingkat kecerdasan dan budaya manusia prasejarah di wilayah Sulawesi.

4. Apakah masyarakat bisa melihat lukisan ini di museum?
Saat ini sedang diusulkan pembuatan replikanya di Museum Sulawesi Tenggara (Kendari) agar lebih mudah diakses oleh publik sebagai sarana edukasi.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |