ilustrasi(freepik)
DI era digital saat ini, hampir semua orang memulai hari dengan membuka ponsel. Entah untuk mengecek media sosial, membaca berita terbaru, atau melihat topik yang sedang hangat diperbincangkan. Namun tanpa disadari, rutinitas ini bisa berubah menjadi kebiasaan yang kurang sehat yang dikenal dengan istilah doomscrolling atau doomsurfing.
Istilah ini semakin sering dibahas dalam dunia psikologi karena berkaitan erat dengan kesehatan mental dan emosional masyarakat modern.
Apa Itu Doomscrolling?
Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan seseorang untuk terus menggulir (scrolling) media sosial atau portal berita demi mencari informasi, meskipun konten yang dikonsumsi bersifat negatif. Jenis informasi tersebut meliputi berita bencana alam, konflik internasional, krisis ekonomi, kriminalitas, hingga isu kesehatan global.
Ironisnya, banyak orang merasa bahwa membaca berita buruk secara detail akan membuat mereka "lebih siap" menghadapi situasi darurat. Padahal, fakta psikologis menunjukkan hal yang sebaliknya: semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin tinggi tingkat kecemasan yang dirasakan.
Mengapa Mudah Terjebak Doomscrolling?
Siklus ini sangat sulit dihentikan karena melibatkan kombinasi antara psikologi evolusioner manusia dan kecerdasan algoritma platform digital:
Kebutuhan Otak akan Kepastian: Dari sisi psikologi, dorongan ini muncul karena otak manusia secara alami ingin mencari kepastian saat menghadapi situasi tidak menentu (seperti pandemi atau krisis global) dengan harapan memperoleh rasa aman.
Algoritma Media Sosial: Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Konten yang memicu emosi kuat—seperti rasa takut, marah, atau penasaran—akan terus disajikan oleh algoritma agar pengguna bertahan lebih lama.
Fitur Infinite Scroll: Fitur gulir tanpa batas di Instagram, TikTok, X, dan Facebook menghilangkan batas alami (titik henti) yang seharusnya menyadarkan pengguna untuk menyudahi aktivitas digital mereka.
Fakta Penggunaan di Indonesia:
Indonesia berada di jajaran empat besar negara dengan pengguna media sosial terbanyak secara global. Kelompok paling aktif berasal dari Generasi Z (Gen Z), yang rata-rata menghabiskan 1 hingga 6 jam per hari di media sosial. Bahkan, 5% di antaranya bisa menatap layar hingga 10 jam dalam sehari.
Dampak Buruk Doomscrolling
Paparan informasi negatif secara konstan memaksa otak berada dalam mode siaga (fight-or-flight) berkepanjangan. Berikut adalah ringkasan dampak klinis doomscrolling menurut sejumlah penelitian:
Stres dan Kecemasan Eksistensial: Penelitian lintas budaya oleh Shabahang dkk. (2024) menemukan bahwa alih-alih menenangkan, doomscrolling memicu existential anxiety, kecemasan mendalam mengenai masa depan, ketidakpastian hidup, hingga makna kehidupan.
Penggunaan Gawai yang Bermasalah: Studi dari Satici dan kolega (2022) menunjukkan individu dengan tingkat doomscrolling tinggi mengalami stres lebih besar dan terjebak dalam pola penggunaan media sosial yang patologis/bermasalah.
Kelelahan Mental (News-Related Stress): American Psychological Association (APA) melaporkan bahwa stres akibat berita berlebih dapat memicu kelelahan emosional yang kronis.
Gejala Turunan yang Sering Muncul:
- Pikiran negatif yang terus berulang (rumination).
- Rasa takut berlebihan terhadap kondisi lingkungan sekitar.
- Perasaan terisolasi dan kesepian.
- Penurunan konsentrasi dan produktivitas kerja/belajar.
Siapa yang Paling Berisiko?
Menurut studi yang dirilis oleh Güme (2024), beberapa kelompok individu yang memiliki kerentanan lebih tinggi terjerat siklus ini adalah:
- Orang dengan tingkat kecemasan dasar yang tinggi.
- Mereka yang mengalami Fear of Missing Out (FOMO) atau takut tertinggal informasi.
- Pengguna media sosial yang bertindak sebagai pembaca pasif (hanya mengonsumsi konten tanpa berinteraksi secara sehat).
- Individu yang kesulitan mengelola emosi (emotion regulation) saat menghadapi tekanan.
Cara Memutus Siklus Doomscrolling
Mendapatkan informasi terbaru itu penting, namun menjaga batasan waras konsumsi digital jauh lebih krusial. Beberapa langkah taktis yang bisa diterapkan meliputi:
- Batasi Durasi: Gunakan fitur screen time limiter pada ponsel untuk membatasi akses aplikasi media sosial.
- Pilih Sumber Kredibel: Hindari akun-akun yang sengaja mengemas berita dengan gaya sensasional atau memicu kemarahan demi keterikatan (engagement).
- Kurangi Ponsel di Pagi Hari: Ganti kebiasaan membuka ponsel saat bangun tidur dengan aktivitas fisik ringan, meditasi, atau membuat sarapan.
Jika rasa cemas akibat berita mulai mengganggu kualitas tidur, hubungan sosial, atau performa kerja sehari-hari, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental guna mendapatkan penanganan yang tepat
(Ant/P-4)

















































