Mengapa Secangkir Kopi Premium Tak Lagi Dinilai Soal Rasa

13 hours ago 2

AROMA kopi yang mengepul ke udara. Ia mengangkut kisah tentang tanah tempat biji ditanam, tangan petani yang merawatnya, hingga ingatan kolektif yang disimpan dalam lagu dan cerita rakyat. Di tengah menjamurnya budaya ngopi, harga secangkir kopi tidak lagi diukur semata dari isi gelas. Kopi semakin dinilai dari pengalaman dan makna yang ikut tersaji. 

Seiring berkembangnya industri kopi di Indonesia, menjamurnya kedai kopi selama satu dekade terakhir memang memperluas akses masyarakat terhadap beragam jenis kopi. Namun, di balik ramainya budaya ngopi di coffee shop, terjadi perubahan yang lebih mendasar melalui konsumen yang belajar mengenali perbedaan karakter kopi berdasarkan daerah asal. Di titik itulah Roemah Koffie menghadirkan Cublak Suweng yang mencoba merangkai cita rasa Gayo dan Temanggung dengan jejak budaya Nusantara.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Commercial Director Roemah Koffie, Ryo Limijaya mengatakan peningkatan konsumsi kopi dibarengi dengan bertambahnya segmen masyarakat yang mulai mengenal kopi. Menariknya, proses itu justru banyak diawali dari minuman bercita rasa manis.

"Sekarang itu semakin banyak segmen orang mengenalkan kopinya. Rekan-rekan kami di industri kopi itu banyak yang main ke kopi yang manis-manis. Sehingga entry level untuk membesarkan market makin bagus," kata Ryo dalam konferensi pers peluncuran Cublak Suweng di Roemah Koffie PIK 2, Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.

Perubahan selera itu membuat pelaku industri melihat kopi premium bukan lagi sebagai pasar yang eksklusif. Ryo mengatakan perusahaan tetap menempatkan diri di segmen premium karena meyakini konsumen akan terus berkembang seiring bertambahnya pengalaman mereka menikmati kopi. "Kita akan selalu ada di level premium itu dan nantinya kita akan terus dapat dampak positifnya," kata dia.

Di balik secangkir kopi premium yang kian diburu, tersimpan pekerjaan panjang yang nyaris luput dari perhatian. Permintaan akan biji kopi berkualitas tak lahir begitu saja di meja barista, melainkan dibangun sejak panen, pengolahan pascapanen, hingga tangan-tangan petani yang menjaga mutunya. Karena itu, ketika pasar terus bertumbuh, perhatian pelaku industri tak lagi berhenti di hilir, tetapi merambah hulu sebagai fondasi yang menentukan kualitas setiap seduhan.

CEO Roemah Koffie Felix TJ, mengatakan tekanan ekonomi memang ikut dirasakan industri barang konsumsi. Namun, menurut dia, segmen kopi premium memiliki ruang yang lebih besar untuk bertahan apabila kualitas di tingkat hulu terus dijaga.

Ia mengatakan segmen kopi premium relatif memiliki ruang yang lebih besar untuk bertahan karena nilai produknya tidak semata ditentukan oleh harga, melainkan juga kualitas dan konsistensi. "Yang sekarang adalah bagaimana caranya mengelola teman-teman petani kopi supaya bisa menghasilkan panen yang lebih baik dan mengolah hasil pascapanennya dengan benar. Kami harus pintar melihat situasi dan merencanakan masa depan. Kalau terganggu, berarti kami tidak siap," ujarnya.

Pandangan itu berangkat dari keyakinan bahwa keberlangsungan industri kopi tidak bisa hanya ditopang oleh bertambahnya jumlah gerai atau meningkatnya konsumsi. Ada mata rantai yang lebih panjang dan harus dijaga, yakni kesejahteraan petani sebagai produsen utama. Tanpa perbaikan di tingkat hulu, sulit bagi industri untuk mempertahankan kualitas kopi premium yang kini semakin diminati pasar.

Pada akhirnya, pertumbuhan budaya ngopi di Indonesia tidak hanya tercermin dari semakin banyaknya kedai kopi atau panjangnya daftar menu yang ditawarkan. Perubahan yang lebih mendasar justru terjadi pada cara masyarakat memaknai kopi.

Secangkir kopi kini menjadi titik temu antara rasa, pengetahuan, budaya, dan kerja panjang para petani di kebun. Ketika konsumen rela membayar lebih mahal untuk menikmati semua itu, yang mereka cari bukan hanya aroma dan kompleksitas rasa, melainkan juga keyakinan bahwa setiap tegukan membawa cerita yang dimulai jauh sebelum kopi tersaji di atas meja.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |