Mengapa kaset dan CD kembali diminati anak muda? Ini alasannya

1 hour ago 1

Jakarta (ANTARA) - Di tengah kebiasaan mendengarkan musik lewat layanan streaming, kaset, CD, piringan hitam, kamera lawas hingga berbagai perangkat analog justru kembali mendapat perhatian dari kalangan anak muda.

Tren tersebut terlihat dari meningkatnya penjualan sejumlah format fisik. Data Recording Industry Association of America (RIAA) menunjukkan penjualan CD di Amerika Serikat mencapai 17,5 juta unit pada semester pertama 2026, naik dari sekitar 12 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan piringan hitam juga masih tumbuh, sementara kategori "other physical" yang mencakup kaset dan sejumlah format fisik lainnya meningkat lebih dari 70 persen. Meski begitu, streaming masih menjadi sumber pendapatan terbesar industri musik.

Fenomena ini menarik karena sebagian pembeli muda bahkan tidak selalu memiliki perangkat untuk memutar barang yang mereka beli. Artinya, kaset atau CD kini tidak hanya dipandang sebagai media untuk menikmati musik, tetapi juga sebagai barang koleksi dan bagian dari identitas seseorang.

Lantas, mengapa barang yang sempat dianggap ketinggalan zaman ini kembali diminati? Berikut alasannya.

Baca juga: Sajama Cut rilis lagu baru bahasa Indonesia dalam format kaset

1. Ada pengalaman yang tidak diberikan layanan digital

Streaming memang praktis. Dengan ponsel dan koneksi internet, seseorang bisa mengakses jutaan lagu tanpa perlu membawa koleksi fisik.

Namun, pengalaman memegang CD, membuka kemasan album, melihat sampul, membaca booklet, hingga memasukkan cakram ke pemutar memberikan pengalaman yang berbeda.

Hal sederhana seperti memilih album dari rak dan memutarnya dari awal sampai akhir membuat aktivitas mendengarkan musik terasa lebih disengaja.

Sejumlah pengamat melihat ketertarikan terhadap media fisik berkaitan dengan keinginan konsumen untuk mendapatkan pengalaman yang lebih nyata dan tidak sepenuhnya bergantung pada layanan digital.

2. Barang fisik terasa lebih personal

Di era ketika sebagian besar koleksi musik berada di dalam aplikasi, memiliki album dalam bentuk fisik dapat memberikan rasa kepemilikan yang berbeda.

CD atau kaset juga bisa menjadi representasi selera pemiliknya. Koleksi yang dipajang di kamar, misalnya, bisa sekaligus menjadi bagian dari dekorasi dan cara menunjukkan musisi atau genre yang disukai.

Tidak heran jika rilisan fisik edisi khusus, terutama dari musisi populer, memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemar.

Fenomena ini juga terlihat dalam penjualan CD pada 2026. Sejumlah rilisan khusus dan edisi koleksi, termasuk dari artis K-pop, ikut mendorong minat pembeli muda.

Baca juga: Waiting Room rilis ulang album debut ke digital dan kaset

3. Nostalgia yang justru dirasakan generasi yang tidak mengalaminya

Menariknya, nostalgia tidak selalu berarti seseorang pernah mengalami masa kejayaan kaset atau CD.

Anak muda yang lahir setelah era tersebut justru dapat melihat barang-barang lama sebagai sesuatu yang unik. Bentuknya berbeda dari perangkat modern yang serba tipis, digital, dan minim tombol.

Kaset, kamera digital lawas, pemutar musik portabel, hingga telepon transparan bergaya 1990-an dan awal 2000-an kini bisa dipandang sebagai bagian dari estetika retro.

Dengan kata lain, seseorang tidak harus memiliki kenangan masa kecil terhadap sebuah benda untuk menganggapnya menarik.

4. Ada kejenuhan terhadap kehidupan yang serba digital

Hampir semua aktivitas saat ini bisa dilakukan melalui layar. Musik, film, komunikasi, belanja, membaca berita hingga menyimpan foto dilakukan melalui perangkat yang sama.

Kembalinya barang analog dapat dilihat sebagai salah satu cara untuk mencari pengalaman yang lebih sederhana dan terasa lebih nyata.

Anak muda tetap bisa menggunakan layanan streaming, tetapi pada saat yang sama memilih membeli CD atau kaset dari musisi favoritnya.

Jadi, tren analog sebenarnya tidak selalu berarti meninggalkan teknologi digital.

Justru keduanya dapat berjalan berdampingan.

Baca juga: Kangen gaya lawas? Mocca rilis kaset album "Day by Day"

5. Barang analog punya nilai estetika

Selain fungsi, bentuk fisik menjadi bagian penting dari daya tarik barang analog.

Sampul album, desain kaset, warna kamera, tombol pemutar musik, hingga bentuk perangkat lawas memiliki karakter visual yang sulit ditemukan pada aplikasi digital.

Karena itu, barang analog juga masuk ke ranah fashion dan gaya hidup.

Benda yang dahulu dianggap biasa kini dapat menjadi aksesori, dekorasi kamar, koleksi, atau bagian dari konten media sosial.

Tren teknologi retro yang kembali muncul pada 2026 juga memperlihatkan bagaimana perangkat dengan desain transparan dan bergaya 1990-an kembali dipasarkan sebagai barang yang menarik secara visual dan kolektibel.

6. Membeli album juga menjadi bentuk dukungan untuk musisi

Ada alasan lain yang tidak kalah penting, yaitu keinginan penggemar untuk memberikan dukungan langsung kepada musisi.

Membeli album fisik memberikan pengalaman berbeda dibanding sekadar mendengarkan lagu melalui layanan streaming.

Bagi sebagian penggemar, membeli CD, kaset, atau piringan hitam juga menjadi cara untuk memiliki bagian dari karya musisi yang mereka sukai.

Apalagi jika rilisan tersebut dibuat dalam jumlah terbatas, memiliki desain khusus atau dilengkapi merchandise dan materi tambahan.

Baca juga: The Cat's Miaow veteran indiepop rilis album kaset di Indonesia

7. Koleksi menjadi hobi tersendiri

Ketika jumlah barang mulai bertambah, kegiatan membeli musik fisik dapat berkembang menjadi hobi mengoleksi.

Mencari album tertentu, menemukan rilisan lama, merawat koleksi, hingga berburu edisi terbatas memberikan pengalaman tersendiri.

Hal ini juga menjelaskan mengapa sebagian pembeli tidak selalu membeli CD karena membutuhkan media untuk memutar musik. Dalam beberapa kasus, benda tersebut memang dibeli sebagai koleksi.

Kondisi tersebut terlihat dalam laporan mengenai kebangkitan CD pada 2026, ketika sebagian pembeli muda disebut lebih melihat CD sebagai barang koleksi daripada sekadar perangkat pemutar musik.

Bukan berarti streaming akan ditinggalkan

Meski kaset, CD dan berbagai barang analog kembali diminati, bukan berarti layanan streaming akan segera ditinggalkan.

Data RIAA menunjukkan pendapatan streaming di Amerika Serikat pada semester pertama 2026 masih jauh lebih besar dibandingkan pendapatan dari format fisik. Kebangkitan media fisik lebih tepat dilihat sebagai tambahan pilihan bagi konsumen, bukan pengganti total layanan digital.

Pada akhirnya, daya tarik kaset, CD dan barang analog bukan hanya soal teknologi lama yang kembali digunakan.

Ada unsur nostalgia, pengalaman fisik, nilai koleksi, estetika, hingga keinginan untuk menikmati sesuatu dengan cara yang lebih disengaja.

Di tengah dunia yang semakin digital, benda-benda tersebut justru menawarkan sesuatu yang semakin jarang ditemui: pengalaman memiliki, menyentuh dan menyimpan sesuatu secara nyata.

Jadi, ketika anak muda mulai membawa pulang CD atau kaset, bisa jadi mereka bukan sedang kembali ke masa lalu. Mereka hanya menemukan cara baru untuk menikmati sesuatu yang pernah dianggap sudah selesai zamannya.

Baca juga: Kaset wawancara John Lennon dan Yoko Ono laku Rp832 juta

Baca juga: Mahasiswa UMM sulap limbah kaset CD jadi panel surya

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |