Mendukbangga: Kehadiran Ayah dan Komunikasi Kunci Atasi Fatherless

1 week ago 11
 Kehadiran Ayah dan Komunikasi Kunci Atasi Fatherless Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wihaji, saat diwawancarai Media Indonesia di Kantornya, Jakarta, Selasa (14/10/2025)(MI/RAMDANI)

MENTERI Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) tidak boleh dimaknai sebatas mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk sekolah. Lebih dari itu, program tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkuat komunikasi dan kehadiran ayah dalam kehidupan anak sebagai upaya mengatasi fenomena fatherless.

Menurut Wihaji, inti dari GAMAS adalah mendorong para ayah meluangkan waktu untuk berbincang dengan anak-anak mereka. Momen perjalanan menuju sekolah dinilai dapat dimanfaatkan sebagai ruang interaksi yang sederhana, namun bermakna.

"Semangatnya satu sebenarnya, bagaimana ayah-ayah ini sempatkan ngobrol sama anak-anaknya. Pesan kita adalah ini cara kita mengingatkan bahwa bapak, tolong anak-anaknya diajak ngobrol," kata Wihaji, Senin (13/7).

Ia menjelaskan, bagi ayah yang mengantar anak menggunakan mobil, perjalanan menuju sekolah dapat menjadi kesempatan untuk berdialog. Sementara bagi yang menggunakan sepeda motor, interaksi tetap dapat dibangun sebelum atau sesudah perjalanan.

Wihaji mengingatkan bahwa minimnya komunikasi antara orang tua dan anak akan membuat anak mencari tempat lain untuk bercerita dan memperoleh jawaban atas berbagai persoalan yang mereka hadapi.

"Kalau anak setiap hari tidak diajak ngobrol, jangan salahkan kalau nanti mereka lebih banyak ngobrol dengan handphone. Mereka akan bertanya kepada media sosial, kepada AI. Semua ada di AI kalau orang tua terlalu sibuk. Karena itu, sempatkan waktu, letakkan handphone sebentar untuk ngobrol sama anak-anak," ujarnya.

Menurutnya, kehadiran seorang ayah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak. Karena itu, GAMAS menjadi pengingat bagi para orang tua bahwa membangun kedekatan emosional tidak selalu membutuhkan kegiatan besar, melainkan cukup dengan menyediakan waktu untuk hadir dan mendengarkan anak.

Wihaji juga menilai tantangan menurunnya interaksi dalam keluarga bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi telah menjadi fenomena global seiring berkembangnya teknologi digital.

"Ini bukan hanya di Indonesia. Ini peradaban dunia, sebuah peradaban baru. Karena itu kita mengingatkan bahwa penting bagi orang tua untuk hadir. Kita ini manusia, tidak hanya punya pikiran, tetapi juga punya hati dan empati. Itu yang harus dibangun dalam keluarga berkualitas," ucapnya.

Melalui GAMAS, pemerintah berharap semakin banyak ayah yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat aktif dalam pengasuhan melalui komunikasi yang hangat dan berkualitas. Kehadiran tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan orang tua dan anak sekaligus menjadi salah satu langkah mencegah fenomena fatherless di Indonesia. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |