Membangun Sepak Bola Putri Indonesia lewat Liga Berkelanjutan

1 week ago 13
Membangun Sepak Bola Putri Indonesia lewat Liga Berkelanjutan Pertandingan final U-18 antara Akademi Persib melawan Putri Garut(Soccer League All-Stars)

Membangun sepak bola putri dari usia dini perlu menjaga kompetisi liga terus bergulir agar pembinaan pemain secara berjenjang berlangsung. Jalur kompetisi yang berkesinambungan diyakini menjadi fondasi untuk memperluas basis talenta sekaligus membangun timnas putri. Pesan itu mengemuka saat putaran nasional Hydroplus Soccer League (HPSL) All-Stars 2025-2026 kategori U-15 dan U-18 berakhir di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (12/7). Akademi Persib keluar sebagai juara U-18 sedangkan gelar di kategori U-15 diraih Goal Aksis Bandung.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin menyatakan Hydroplus Soccer League bersama MilkLife Soccer Challenge yang fokus pada usia sekolah dasar akan terus digelar sebagai bagian dari ekosistem pembinaan sepak bola putri usia muda yang berjenjang.

"Kami akan terus mengawal kompetisi berjenjang ini agar jalur pembinaan atlet nasional kita tidak terputus. Bahkan, kami juga memperluas kota-kota penyelenggaraan sehingga ekosistem sepak bola putri semakin meluas dan merata di seluruh Indonesia. Kami tidak akan mundur dalam memajukan sepak bola putri Indonesia," ucap Yoppy.

Selama putaran nasional All-Stars berlangsung satu pekan, pelatih timnas putri U-16 Timo Scheunemann dan talent scouting Hydroplus Jacksen F Tiago memantau para pemain. Mereka bersama asisten pelatih timnas putri senior Takumi Taniguchi akan menyaring pemilihan pemain untuk dua skuad Indonesia yang akan tampil di turnamen internasional Srikandi Merdeka Cup pada Agustus mendatang.

Di ajang tersebut, Indonesia dijadwalkan menghadapi Thailand, Singapura, Arab Saudi, Malaysia, Filipina, dan Yordania. Tahap berikutnya, pemain dari HPSL yang masuk radar akan mengikuti pemusatan latihan di Kudus mulai 24 Juli. Seleksi dilakukan menggunakan parameter yang telah disusun bersama, mulai dari aspek teknik, kondisi fisik, komunikasi, hingga kecerdasan bermain (football intelligence).

"Yang terpenting sekarang ada kesempatan untuk 46 pemain (dua tim), bukan hanya 23. Kesempatan ini harus dimanfaatkan agar mereka semakin serius mengembangkan karier. Harapan saya, ke depan memilih pemain timnas justru menjadi jauh lebih sulit karena kualitas dan persaingannya semakin tinggi," ujar Timo.

Menurutnya, saat ini jalan menuju timnas putri masih lebih terbuka dibanding sepak bola putra karena jumlah pemain berkualitas belum terlalu banyak. Namun kondisi tersebut diyakini akan berubah apabila kompetisi usia muda terus berjalan secara konsisten.

Timo melihat perkembangan kemampuan pemain di HPSL berlangsung cukup pesat. Sejumlah pemain yang semula belum menonjol kini tampil lebih matang setelah menjalani kompetisi selama hampir sepuluh bulan dengan format liga. Banyak juga pemain yang tampil di HPSL merupakan jebolan dari MilkLife Soccer Challenge.

Dia menilai perubahan tersebut tidak lepas dari pola pembinaan klub yang mulai bergeser. Jika sebelumnya latihan masih mengikuti siklus turnamen yang tidak begitu rutin, kini banyak klub menjalankan program latihan sepanjang tahun.

"Terlihat sekali perkembangannya. Ada pemain yang tahun lalu belum siap, sekarang jauh lebih baik. Mereka bermain rutin setiap dua pekan dan berlatih terus-menerus. Dampaknya, kualitas meningkat dan persaingan makin ketat," katanya.

Timo juga mengajak pesepak bola putri dari daerah yang belum memiliki kompetisi serupa agar berani mencari kesempatan bergabung dengan sekolah atau klub yang masuk dalam sistem liga HPSL maupun Soccer Challenge.

"Kalau merasa punya bakat, jangan menunggu. Cari sekolah atau klub yang masuk sistem kompetisi ini supaya bisa dipantau. Sudah ada pemain dari Papua, Ternate, Banjarmasin, yang pindah demi mengejar kesempatan itu," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Jacksen F Tiago. Selama sepekan melakukan pemantauan bersama Timo, dia mengaku terkesan dengan kualitas pemain yang tampil di putaran nasional.  Menurut mantan pelatih Persipura Jayapura itu, keberadaan kompetisi yang rutin menjadi modal penting karena pemain memiliki ruang untuk terus berkembang.

"Saya melihat banyak pemain yang potensinya luar biasa. Mereka memang belum siap sepenuhnya karena masih dalam proses pembinaan, tetapi kualitas individunya sangat menarik. Tinggal bagaimana pembinaan dilakukan secara konsisten sampai mereka mencapai level timnas senior," kata Jacksen. (E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |