Bom AS di Iran.(Al Jazeera)
PARA mediator internasional tengah bekerja keras mendorong Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menyepakati gencatan senjata baru pada Senin (20/7). Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa kedua musuh bebuyutan tersebut terjebak dalam pola konflik yang mengganggu ekonomi regional dan berisiko memicu perang terbuka akibat salah perhitungan.
Upaya diplomasi ini muncul setelah AS melancarkan serangan malam kesembilan berturut-turut. Sebagai balasan, Iran menyerang sekutu Arab termasuk Kuwait dan Bahrain. Ketegangan semakin memuncak setelah satu kapal di Selat Hormuz terkena proyektil yang memicu kebakaran, memaksa awak kapal untuk meninggalkan kapal tersebut.
Usulan Gencatan Senjata 10 Hari
Qatar melontarkan gagasan gencatan senjata selama 10 hari dan penghentian pembatasan pelayaran di jalur strategis tersebut. Namun, belum ada kepastian apakah kedua belah pihak bersedia menerima penghentian pertempuran baru, mengingat kesepakatan damai awal yang ditandatangani pada pertengahan Juni lalu runtuh awal bulan ini.
Beberapa proposal gencatan senjata sementara lain juga disampaikan kepada Iran dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan belum memberikan tanggapan resmi terhadap usulan-usulan tersebut.
Sinyal Diplomasi di Tengah Pengerahan Militer
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan saat meninggalkan Filipina bahwa Iran memberi sinyal melalui perantara bahwa mereka bersedia untuk berbicara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa mediator secara aktif mencoba mencegah eskalasi lebih lanjut dan menyampaikan berbagai proposal yang sedang dikaji oleh para diplomat Iran.
Di sisi lain, AS terus memperkuat kehadiran militernya dengan memindahkan jet tempur F-16 dan F-35 ke kawasan tersebut. Bulgaria juga melaporkan bahwa AS meminta izin untuk menempatkan hingga delapan pesawat tanker pengisi bahan bakar udara guna mendukung operasi Amerika di Timur Tengah.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengkritik pergerakan peralatan militer AS tersebut. Melalui media sosial, ia menyatakan bahwa mobilisasi militer menunjukkan AS tidak serius dalam mengakhiri perang.
Sengketa Jalur Selat Hormuz
Diplomat menghadapi jalan buntu karena tuntutan yang saling bertentangan terkait pengelolaan Selat Hormuz. Iran mengeklaim hak untuk mengelola pembukaan kembali jalur air tersebut berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Presiden Trump sebulan lalu. Sementara itu, AS membantu kapal-kapal menggunakan jalur di luar pengawasan Iran yang membentang di sepanjang pantai Oman.
Umer Karim, peneliti keamanan Teluk di Universitas Birmingham, menilai mediasi menjadi tugas yang hampir mustahil mengingat keteguhan Iran untuk tidak mundur dari pengelolaan Selat Hormuz dan absennya pemimpin tertinggi Iran dalam proses tersebut.
Konflik ini memberikan dampak mematikan. Serangan Iran terhadap pangkalan di Yordania baru-baru ini menewaskan dua tentara AS dan melukai beberapa lain. Sebagai balasan, AS menyerang target yang lebih luas di Iran, termasuk infrastruktur jembatan, kereta api, hingga menara kontrol di pelabuhan Chabahar.
Qatar meyakini memiliki posisi tawar untuk mendorong jeda pertempuran karena ekonomi Iran yang terpuruk dianggap tidak akan mampu menahan kerusakan lebih lanjut akibat perang maupun blokade AS yang kembali diberlakukan. (The Wall Street Journal/I-2)

















































