MAC Tambah Kelompok Usia untuk Regenerasi Atlet

6 days ago 6
MAC Tambah Kelompok Usia untuk Regenerasi Atlet Ekspresi kemenangan Adyatama Fawwaz Oktoraza dalam final Lari 400 meter Putra KU 18 MilkLife Athletics Challenge Seri 1 - 2026. Siswa MAN 2 Kudus itu jadi yang tercepat dengan catatan waktu 55,35 detik.(DOK BAKTI OLAHRAGA DJARUM FOUNDATION)

BAKTI Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife kembali bekerja sama dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kudus menggelar MilkLife Athletics Challenge Seri 1 2026. Kejuaraan yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 15 hingga 18 Juli itu diikuti 2.270 pelajar dari 196 MI, SD, MTs, SMP, SMA, MA, hingga SMK di Kudus dan daerah sekitarnya.

Pada edisi tahun ini, penyelenggara mempertandingkan 23 nomor atletik yang terbagi dalam lima kelompok usia, yakni KU 8, KU 10, KU 12, KU 15, dan KU 18. Nomor yang dilombakan meliputi berbagai kategori lari, jalan cepat, estafet, nomor dasar atletik, hingga nomor lempar dan lompat.

Deputy Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation Welly Arisanto mengatakan penambahan kelompok usia delapan tahun menjadi langkah untuk memperkuat pembinaan atlet sejak usia lebih dini. Menurutnya, masa tersebut merupakan periode penting dalam perkembangan kemampuan motorik anak.

"Dengan menghadirkan kelompok usia 8 tahun pada seri 1 2026 ini, kami ingin memotong garis awal pembinaan agar lebih dini lagi. Di usia emas anak-anak, koordinasi motorik mereka sedang berkembang pesat. Lewat MilkLife Athletics Challenge, kami memfasilitasi mereka agar mengenal fondasi atletik lewat cara yang kompetitif namun tetap menyenangkan," ucapnya.

Selain memperluas jangkauan usia peserta, penyelenggara juga memperbarui nomor pertandingan agar lebih sesuai dengan tahapan perkembangan atlet muda. Beberapa nomor baru seperti lari 800 meter dan lompat tinggi dimasukkan, sementara nomor yang membutuhkan daya tahan ekstrem atau berisiko tinggi terhadap cedera tidak lagi dipertandingkan.

"Tahun ini kami juga menyegarkan pilihan nomor perlombaan dengan menyisipkan variasi lari 800 meter dan lompat tinggi yang lebih efektif untuk mengukur potensi dasar mereka. Di sisi lain, kami memilih untuk lebih selektif terhadap nomor yang membutuhkan ketahanan fisik ekstrem seperti lari 3.000 meter, ataupun nomor dengan risiko cedera sendi tinggi pada anak seperti lompat jangkit. Kami ingin peserta fokus pada nomor atletik yang adaptif dan sesuai dengan porsi tumbuh kembang mereka, sehingga proses pencarian bakat berjalan lebih aman dan terarah," lanjutnya.

Ketua PASI Kudus Firdaus menilai penyelenggaraan MilkLife Athletics Challenge secara rutin sejak 2024 memberikan dampak positif terhadap perkembangan atletik usia dini di Jawa Tengah. Menurutnya, kejuaraan tersebut tidak hanya memperkenalkan olahraga atletik kepada pelajar, tetapi juga mulai menjadi wadah lahirnya atlet-atlet potensial.

"Perkembangan kualitas anak-anak dari seri ke seri sangat luar biasa. Kompetisi yang reguler seperti ini berhasil mengubah pandangan bahwa atletik itu menakutkan, menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan bagi anak sekolah. Dampaknya, gairah mereka untuk berprestasi secara organik. Kami sangat optimistis Kudus sedang berproses melahirkan generasi atletik baru yang unggul dan siap mewakili Jawa Tengah di ajang tingkat provinsi seperti Porprov, bahkan hingga level nasional seperti Popnas. Kami juga berharap agar MilkLife Athletics Challenge tahun depan bisa digelar tingkat provinsi," ujarnya.

Firdaus menambahkan, para atlet yang terjaring dari ajang tersebut akan mendapatkan pembinaan lanjutan agar mampu berkembang menuju level yang lebih tinggi.

"Tugas kami adalah memastikan bakat-bakat yang terjaring dari ajang ini mendapatkan pembinaan lanjutan yang berkesinambungan dan terpusat, serta terus memberikan jam terbang kompetisi agar mental bertanding mereka matang sebelum terjun ke kejuaraan resmi daerah maupun nasional," imbuh Firdaus.

Pada kelompok usia 15, MTsN 1 Kudus kembali mempertahankan gelar juara umum setelah mengoleksi tujuh medali emas, tiga perak, dan dua perunggu. Guru pendamping MTsN 1 Kudus, Dimas Maulana, menyebut keberhasilan tersebut menjadi bukti pentingnya pembinaan atletik sejak di lingkungan sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.

"MilkLife Athletics Challenge ini adalah ajang yang sangat luar biasa ya, apalagi anak-anak ternyata punya bakat di bidang atletik. Untuk itu kami juga sebisa mungkin memberikan fasilitas kepada mereka di beberapa cabang lomba atletik dengan adanya ekstrakurikuler. Semoga prestasi ini bisa konsisten kami pertahankan, bahkan ditingkatkan untuk ikut andil dalam lahirnya bibit cabang olahraga atletik dari Kudus," ujarnya.

Sementara itu, atlet KU 18 asal MAN 2 Kudus, Adyatama Fawwaz Oktoraza, menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian setelah meraih juara pada nomor lari 400 meter putra. Ia juga membawa sekolahnya menjadi yang terbaik pada nomor estafet 4 x 400 meter mixed. Adyatama berharap pengalaman bertanding di MilkLife Athletics Challenge menjadi bekal untuk menembus pemusatan latihan nasional.

"Kejuaraan ini tentu sangat positif ya, saya lihat semakin banyak siswa yang tertarik untuk turut serta. Sementara untuk saya sendiri, kemenangan ini sangat berharga. Untuk sekarang dan ke depannya, saya bakal lebih fokus ke nomor 400 meter. Semoga ini juga jadi salah satu jalan untuk saya bisa lolos ke Pelatnas dan mudah-mudahan bisa jadi bagian dari timnas atletik," ungkapnya. (I-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |