Ilustrasi.(Magnific)
KETEGANGAN di kawasan Teluk kembali memuncak setelah Kuwait dan Bahrain melaporkan ada serangan udara baru dari Iran pada Kamis (16/7) waktu setempat. Serangan ini terjadi di tengah baku tembak antara Teheran dan Washington dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz yang strategis.
Militer Kuwait menyatakan bahwa mereka sedang merespons gelombang baru serangan pesawat nirawak (drone) dan secara terbuka menyalahkan agresi Iran. Seorang jurnalis AFP di Kuwait City melaporkan terdengarnya suara ledakan di dekat ibu kota negara Teluk tersebut.
Sebelumnya pada hari yang sama, Kuwait dan kerajaan pulau Bahrain mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka menangani gelombang serangan Iran terdahulu. Sirene peringatan sempat terdengar meraung-raung di Manama, ibu kota Bahrain.
Target Serangan
Pihak Iran mengeklaim serangan tersebut menargetkan sejumlah titik strategis, antara lain:
- Sistem radar dan pertahanan udara di pangkalan udara Ali al-Salem, Kuwait.
- Fasilitas penyimpanan bahan bakar di pangkalan udara Ali al-Salem, Kuwait.
- Instalasi militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Sheikh Isa, Bahrain.
Meskipun Iran berdalih hanya menyerang aset militer AS di kawasan tersebut, baik Bahrain maupun Kuwait menuduh Republik Islam tersebut turut menargetkan lokasi-lokasi sipil.
Gagalnya Gencatan Senjata
Kedua negara Teluk itu menghadapi serangan berulang dari Iran sejak dimulai kembali permusuhan antara Washington dan Teheran pada 7 Juli lalu. Eskalasi ini sangat disayangkan mengingat ada kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari pada Juni, yang semula diharapkan dapat mengakhiri perang secara permanen dan membuka kembali Selat Hormuz.
Saat ini, tingkat permusuhan mencapai level yang belum pernah terlihat sejak gencatan senjata 8 April. Pertempuran terbaru ini dipicu oleh tindakan Iran yang menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur air vital bagi ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk. (AFP/I-2)

















































