Ilustrasi(Anadolu)
JUMLAH korban jiwa akibat serangan udara terbaru yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) di wilayah Iran dilaporkan terus bertambah. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Iran, sebanyak 17 orang dinyatakan tewas dan lebih dari seratus lainnya mengalami luka-luka.
Kepala Urusan Media Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengonfirmasi pembaruan data tersebut melalui platform X pada Jumat (11/7/2026). Sebelumnya, otoritas setempat melaporkan jumlah korban tewas sebanyak 14 orang dengan 78 orang luka-luka.
"Selama terjadi serangan udara di enam kota di Iran pada 8-9 Juli, sebanyak 115 orang terluka, termasuk dua perempuan. Sebanyak 14 operasi dilakukan, 102 orang menerima perawatan medis dan dipulangkan. Sayangnya, 17 warga negara tewas, salah satunya seorang perempuan," ujar Kermanpour.
Data Korban Serangan Udara AS di Iran (8-9 Juli):
| Korban Tewas | 17 Orang |
| Korban Luka-luka | 115 Orang |
| Pasien Menjalani Operasi | 14 Orang |
| Pasien Rawat Jalan/Dipulangkan | 102 Orang |
| Wilayah Terdampak | 6 Kota |
Eskalasi Konflik dan Balasan Iran
Rangkaian serangan militer AS dimulai pada Rabu malam. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi udara tersebut merupakan tindakan balasan atas gangguan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Merespons agresi tersebut, pasukan Iran dilaporkan telah melancarkan serangan balasan yang menargetkan basis-basis militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Otoritas Teheran menuduh Washington telah melanggar memorandum kesepakatan yang sebelumnya bertujuan untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut.
Gencatan Senjata Berakhir
Situasi semakin memanas setelah Presiden Donald Trump secara resmi menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi berlaku. Pernyataan ini diikuti dengan serangan udara putaran kedua yang dilanjutkan oleh militer AS pada Rabu malam waktu setempat.
Situasi di enam kota terdampak masih dalam pemantauan ketat, sementara fasilitas medis di Iran terus berupaya menangani korban yang tersisa di rumah sakit. Pihak internasional mengkhawatirkan eskalasi ini akan memicu konflik terbuka yang lebih luas di Timur Tengah. (Ant/I-1)

















































