Kebakaran Lahan di Luwu Timur Hanguskan 1 Hektare, Sulsel Darurat Deforestasi

5 days ago 6
Kebakaran Lahan di Luwu Timur Hanguskan 1 Hektare, Sulsel Darurat Deforestasi Ilustrasi(Dok Istimewa)

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, di tengah ancaman deforestasi yang menjadikan daerah itu sebagai wilayah dengan tingkat kehilangan hutan terbesar di Sulael.

Api berkobar di lahan belakang fasilitas Pertamina Ussu, Desa Atue, Kecamatan Malili, pada Minggu (19/7) sekitar pukul 18.00 WITA. 

Sedikitnya 1 hektare lahan hangus terbakar sebelum tim gabungan berhasil menjinakkan si jago merah sekitar tiga jam kemudian, pukul 21.00 WITA. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Pemadaman melibatkan puluhan personel dari BPBD Luwu Timur, Dinas Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, Dinas Perhubungan, TNI, Polri, serta masyarakat setempat. Hingga Senin pagi, situasi di lokasi dilaporkan telah terkendali.

Kebakaran ini terjadi hanya sepekan setelah BPBD Luwu Timur memetakan sejumlah kecamatan rawan karhutla, menyusul imbauan Kepala Pelaksana BPBD Luwu Timur, H. April, agar warga tidak melakukan pembakaran terbuka di tengah cuaca kering. 

Menurutnya kondisi geografis Kabupaten Luwu Timur yang didominasi kawasan pegunungan dan perbukitan menjadikan daerah ini memiliki kerawanan terhadap berbagai jenis bencana, baik bencana geologi maupun hidrometeorologi.

“Wilayah Kabupaten Luwu Timur memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, hingga berbagai ancaman bencana lainnya yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca,” ujarnya.

Peringatan serupa juga disampaikan BPBD Sulawesi Selatan yang memperkuat kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga September 2026.

Deforestasi

Kabupaten Luwu Timur menyimpan catatan lingkungan yang jauh lebih mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan, luas kawasan hutan di provinsi tersebut mencapai 1.991.144 hektare dengan tutupan hutan yang tersisa sekitar 1.434.185 hektare sehingga sekitar 556.959 hektare telah kehilangan tutupan vegetasi.

"Penyelamatan hutan harus menjadi gerakan bersama sebagai respons terhadap alih fungsi lahan, perambahan, dan kebakaran hutan," ujar Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulsel, Prof. Yusran Yusuf.

Ancaman Kemarau

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri, mencatat bahwa musim kemarau tahun 2026 membawa ancaman serius bagi sejumlah wilayah Indonesia. Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan dilaporkan mengalami hari tanpa hujan tingkat ekstrem.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengimbau pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla, terutama di wilayah yang tengah memasuki musim kemarau.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |