Ilustrasi(Antara)
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami peningkatan signifikan sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, tercatat sebanyak 869 orang dinyatakan positif terjangkit virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Asep Surahman, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus ini telah menyebabkan tiga orang meninggal dunia, sementara pasien lainnya dilaporkan berangsur sembuh setelah menjalani perawatan medis.
"Kasus DBD sejak Januari-Juli 2026 mengalami peningkatan cukup signifikan yang disebabkan faktor cuaca tidak menentu di beberapa daerah. Selain itu, masyarakat juga kurang memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar. Kasus tersebut banyak ditemukan di wilayah perkampungan," ujar Asep Surahman, Senin (20/7/2026).
Asep menjelaskan, kondisi cuaca yang tidak menentu di tengah musim kemarau justru memicu pertumbuhan jentik nyamuk menjadi dewasa lebih cepat. Menanggapi situasi ini, petugas kesehatan terus berupaya melakukan langkah preventif melalui edukasi dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Upaya tersebut meliputi pengasapan (fogging) di sejumlah lokasi endemik serta pemeriksaan jentik secara berkala di rumah-rumah warga, khususnya pada tempat penampungan air seperti bak mandi.
"Kami selalu memberikan edukasi kepada masyarakat supaya rutin melakukan 3M (menguras, menutup, dan mengubur), menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta aktif dalam pemberantasan sarang nyamuk," tambahnya.
Meski angka kumulatif mencapai ratusan kasus, Asep menyebut peningkatan ini masih terpantau melalui laporan rutin dari Puskesmas dan rumah sakit. Ia menekankan pentingnya Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik agar masyarakat lebih mandiri dalam mengawasi lingkungan tempat tinggalnya.
"Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat harus peduli guna menekan kasus agar jentik nyamuk tidak tumbuh dewasa. Kami mengimbau warga untuk lebih semangat membuang sampah pada tempatnya, terutama di tengah kondisi cuaca yang sulit diprediksi saat ini," pungkas Asep. (AD/I-1)

















































