Ilustrasi(MI/RIFALDI PUTRA)
DALAM era globalisasi yang semakin kompleks, perdagangan internasional dan pariwisata tidak lagi hanya dipandang sebagai pertukaran barang, jasa, atau kunjungan fisik semata. Lebih dari itu, keduanya adalah bentuk komunikasi yang memerlukan strategi matang untuk membangun kepercayaan dan kerja sama yang berkelanjutan.
Universitas Sahid bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, mengupas hal itu dalam seminar internasional bertajuk "Strategic Communication in Strengthening International Trade and Tourism Cooperation". Berlangsung di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (20/7)
"Ketika kita mendengar kata perdagangan internasional, kita sering berpikir tentang ekspor, impor, regulasi, tarif, pasar, dan negosiasi. Ketika kita mendengar kata pariwisata, kita berpikir tentang destinasi, hotel, maskapai penerbangan, atraksi budaya, dan pengunjung. Namun hari ini, saya ingin menawarkan perspektif yang berbeda," kata Ketua Program Studi Doktor (S3) Ilmu Komunikasi Universitas Sahid (Usahid), Prasetya Yoga Santoso, dalam seminar, Senin (20/7).
Lanjut Prasetya, perjanjian dagang, branding pariwisata, dan hubungan diplomatik bukan hanya proses teknis atau ekonomi semata, tetapi merupakan konstruksi komunikatif yang mendefinisikan makna, kepercayaan, dan kerja sama.
Karena itu strategi komunikasi menurut Prasetya menjadi hal penting, dengan komunikasi yang baik tersebut memungkinkan membuka pasar baru dan menciptakan peluang ekonomi yang signifikan.
"Inilah sebabnya mengapa komunikasi strategis itu penting. Komunikasi strategis bukan sekadar mengirimkan informasi, mengeluarkan rilis berita, atau memproduksi slogan-slogan yang menarik. Ini adalah tentang menyelaraskan pesan kita, kebijakan kita, tindakan kita, dan tujuan kita. Ini adalah tentang memahami audiens kita," ujarnya.
Seminar ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk membahas bagaimana komunikasi strategis dapat memperkuat diplomasi ekonomi, meningkatkan kerja sama perdagangan dan pariwisata, serta membangun kolaborasi lintas negara yang berkelanjutan.
"Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa. Kita memiliki keragaman budaya, industri kreatif, pasar yang strategis, sumber daya alam, dan destinasi kelas dunia. Namun kekuatan saja tidak cukup. Kita juga harus mengomunikasikan kekuatan itu secara efektif," tukasnya.
Hadir pula sebagai panelis Basaria Tiara L. Gaol, Direktur Perundingan Bilateral, Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Scott McNamara, Penasihat Bidang Ekonomi, Perdagangan, dan Investasi Kedutaan Besar Australia di Jakarta, hingga Swastiningsih, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional.
Melalui Seminar ini, diharapkan menjadi wadah pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan gagasan yang dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu komunikasi dan pembangunan Indonesia di tingkat internasional. (H-2)

















































