MASYARAKAT Suku Musi tidak melihat Hutan Jongot yang menghampar di lanskap Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, sebagai rumpun pepohonan semata. Di tengah serbuan perkebunan sawit dan karet, kantong-kantong kecil rimba tersebut menjadi sumber pangan, obat-obatan, bahan bangunan, penyimpan air tanah, sekaligus ruang hidup bagi berbagai satwa.
Luas hutan yang diwariskan secara turun-temurun itu hanya sekitar setengah hektare. Namun, di situ ada beragam tanaman langka yang dijaga oleh masyarakat adat asal Penukal dan Penukal Utara. Beberapa jenis yang sudah sulit ditemukan, antara lain varietas durian seperti dian rimbe (Durio oxleyanus) dan dian jerging (Durio kutejensis). Lalu ada buah tropis tampui (Baccaurea macrocarpa), rambai (Baccaurea motleyana), hingga rukam (Baccaurea dulcis).
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Hubungan unik manusia dan hutan di Penukal itu belakangan diangkat menjadi sebuah film dokumenter oleh jurnalis Mongabay sekaligus pegiat budaya dan lingkungan, Nopri Ismi. Film berjudul ‘Jongot: Warisan Leluhur untuk Alam dan Manusia’ berdurasi 50 menit itu akan diputar perdana di kawasan perkebunan lahan basah Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kecamatan Penukal Utara, pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Masih bagian dari pemutaran proyek film yang disokong Dana Indonesiana 2025, ada juga pameran foto dan diskusi antara masyarakat adat, akademisi, serta pegiat lingkungan dan budaya. Nopri mengatakan karya tersebut menggambarkan hubungan masyarakat lokal dengan tiga ruang yang saling terhubung: ume, kebun karet, dan jongot.
Ume menjadi sumber pangan seperti beras dan palawija. Kebun karet menjadi sumber ekonomi keluarga. Sementara jongot menyediakan buah-buahan, obat-obatan tradisional, dan bahan bangunan. “Ketiganya saling melengkapi," kata Nopri saat ditemui Tempo, Selasa, 2 Juni 2026.
Film tersebut juga menyoroti praktik pembukaan dan pengalihfungsian lahan yang mengancam Hutan Jongot. Lantaran dikonversi menjadi kebun sawit dan karet, luasan rimba itu terus menyusut dari waktu ke waktu, padahal peran ekologisnya besar. Sejauh ini, menurut Nopri, ada sekitar seratus titik jongot yang tersisa di lanskap Penukal, dengan luas total sekitar 68 ribu hektare.
Nopri berharap film dan pameran foto yang disusunnya dapat memperkuat upaya perlindungan Jongot secara lebih serius, termasuk upaya untuk menjadikan lokasi itu sebagai hutan budaya. "Di tengah krisis iklim yang kita rasakan saat ini, Jongot adalah sebuah harapan," ujar dia.














































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)



