Peluncuran buku Gorontalo: Takdir Pohala’a.(MI/HO)
DI tengah pesatnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, upaya menjaga sejarah dan identitas budaya dinilai semakin krusial. Semangat inilah yang melandasi Irtja Tangahu Hadju untuk meluncurkan buku bertajuk Gorontalo: Takdir Pohala’a.
Peluncuran karya monumental ini dilakukan bertepatan dengan tasyakuran ulang tahunnya yang ke-89 di JS Luwansa Hotel & Convention Center, Jakarta Selatan, Minggu (12/7).
Buku ini bukan sekadar catatan biasa, melainkan ungkapan rasa syukur atas perjalanan hidup Irtja selama hampir sembilan dekade. Dedikasinya di bidang pendidikan, pembangunan, dan pelestarian sejarah kini terangkum dalam sebuah karya historiografi yang mendokumentasikan peradaban Gorontalo, mulai dari fase purba hingga terbentuknya provinsi mandiri.
Irtja mengungkapkan bahwa motivasi utamanya menulis adalah kekhawatiran akan sejarah yang mulai terpinggirkan.
"Sejarah merupakan fondasi sebuah peradaban. Tanpa pemahaman yang memadai terhadap masa lalu, generasi penerus berisiko kehilangan arah dalam menapaki masa depan," ujarnya.
Rekonstruksi Peradaban Bumi Pohala’a
Disusun selama lebih dari dua dekade sejak 2005 hingga 2026, buku ini menghadirkan rekonstruksi perjalanan Gorontalo secara komprehensif. Irtja menelusuri jejak masa pra-kerajaan, perkembangan kerajaan lokal, hingga lahirnya entitas sosio-politik Duluwo Limo Lo Pohala’a.
Narasi dalam buku ini juga mencakup tonggak sejarah penting saat Gorontalo resmi menjadi provinsi ke-32 di Indonesia pada 5 Desember 2000. Lebih dari sekadar data deskriptif, karya ini bertujuan menjaga memori kolektif masyarakat agar nilai-nilai kearifan lokal seperti Wulito, Wungguli, dan Pilu tetap dikenal oleh generasi muda.
Salah satu poin menarik yang dibedah adalah kecerdasan sosiologis leluhur Gorontalo. Irtja mengangkat keberadaan institusi Bantayo Poboide, yang telah menerapkan prinsip checks and balances dalam tata kelola pemerintahan jauh sebelum konsep modern tersebut populer.
Rekam Jejak Pendidikan dan Karier Penulis
Irtja Tangahu Hadju memiliki latar belakang yang kuat dalam dunia pendidikan dan birokrasi. Sebagai anak dari pasangan Buduri Hadjoe (seorang Jogugu/Wedana) dan Fatima Bimbing Sunge (cucu Raja Sunge dari Atinggola), ia memiliki kedekatan emosional dan intelektual dengan tanah kelahirannya.
Berikut adalah ringkasan perjalanan akademik dan profesional Irtja Tangahu Hadju:
| 1954 - 1957 | Lulus SMP Gorontalo dan SPMA Makassar; bekerja di Inspeksi Dinas Pertanian Rakyat Makassar. |
| 1958 | Diploma I di Faculty of Agriculture, West Virginia University, Amerika Serikat (Program USAID). |
| 1968 - 1972 | Bertugas di Dinas Pertanian Rakyat Sulawesi Tengah, kemudian pindah ke Departemen Pertanian RI di Jakarta. |
| 1984 - 1987 | Menempuh pendidikan S1 dan S2 Pendidikan Pertanian di Sam Houston State University, Texas, AS (Beasiswa World Bank). |
| 2005 - 2026 | Proses penelitian, penelusuran sejarah, dan penulisan buku Gorontalo: Takdir Pohala’a. |
Di usia ke-89, kehadiran buku ini menjadi "suluh akademik" yang diharapkan dapat menjaga api peradaban Gorontalo tetap menyala. Karya ini menjadi jembatan pengetahuan antargenerasi, memastikan bahwa identitas dan martabat bangsa tidak hilang ditelan zaman. (Z-1)

















































