ilustrasi(Anadolu)
Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Keputusan drastis ini diambil setelah pasukan elit tersebut melepaskan tembakan peringatan terhadap sebuah kapal yang dituduh melintasi jalur pelayaran tidak sah.
Berdasarkan laporan kantor berita pemerintah Iran, IRNA, kapal tersebut dihentikan karena mengabaikan serangkaian peringatan dari IRGC untuk tetap berada di koridor pelayaran yang telah ditetapkan. "Kapal itu terkena tembakan peringatan dan berhenti setelah mengabaikan instruksi berulang kali untuk menggunakan koridor pelayaran yang disetujui," tulis pernyataan resmi Garda Revolusi.
Ketegangan dengan Amerika Serikat Memuncak
Penutupan jalur maritim paling strategis di dunia ini disebut akan terus berlaku hingga tuntutan Teheran terpenuhi. IRGC menegaskan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas sampai intervensi Amerika Serikat di kawasan tersebut berakhir.
"Setelah insiden ini, Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan hingga berakhirnya intervensi Amerika di wilayah ini," tegas pihak Garda Revolusi. Selain itu, mereka memperingatkan akan menargetkan pangkalan militer baru milik musuh jika Iran kembali menjadi sasaran serangan militer.
Langkah ini memperkeruh situasi diplomatik yang sudah tegang. Sebelumnya, laporan Axios menyebutkan bahwa Washington telah memberikan tenggat waktu hingga Sabtu (11/7) bagi Teheran untuk menghentikan gangguan terhadap kapal komersial dan mengakui Selat Hormuz sebagai perairan internasional yang terbuka.
Dampak Terhadap Ekonomi Global
Status Selat Hormuz tetap menjadi titik api utama dalam hubungan kedua negara. Iran mengklaim hak kedaulatan untuk mengatur lalu lintas di jalur sempit tersebut, termasuk rencana pengenaan biaya bagi kapal yang melintas. Sebaliknya, Amerika Serikat bersikeras pada prinsip kebebasan navigasi internasional tanpa pembatasan.
Dunia kini mengantisipasi dampak ekonomi dari penutupan ini. Sebagai informasi:
- Sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global melintasi Selat Hormuz setiap harinya.
- Gangguan pada jalur ini secara historis selalu memicu lonjakan harga energi dunia secara signifikan.
- Penutupan ini mengancam stabilitas pasokan energi bagi banyak negara yang bergantung pada ekspor dari kawasan Teluk.
Hingga saat ini, situasi di sekitar Selat Hormuz dilaporkan masih sangat tegang dengan pengawasan ketat dari armada militer Iran, sementara komunitas internasional menunggu respons lanjutan dari Washington dan sekutunya.



































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)














