Inovasi Lobster Dederan IPB University: Solusi Hilirisasi dan Budidaya Berkelanjutan

1 week ago 12
 Solusi Hilirisasi dan Budidaya Berkelanjutan Ilustrasi--Nelayan menunjukan lobster jenis bambu di perairan Pulau Balikukup, Berau, Kalimantan Timur, Minggu (31/5/2026).(ANTARA/Angga Palguna)

PENELITI dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Dr Irzal Effendi, memperkenalkan inovasi baru dalam rantai pasok perikanan nasional melalui pengembangan konsep lobster ukuran dederan. Langkah ini dirancang sebagai produk antara yang bertujuan memperkuat hilirisasi riset sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan Benih Bening Lobster (BBL) secara berkelanjutan.

Selama ini, industri lobster cenderung terpolarisasi pada dua segmen ekstrem: penjualan BBL atau lobster konsumsi dengan bobot di atas 150 gram. Kehadiran lobster dederan dengan ukuran 10 hingga 50 gram diharapkan mampu mengisi celah pasar yang selama ini belum tergarap maksimal.

"Berdasarkan uraian saintifik yang kami lakukan, kami mencoba mempromosikan produk baru bernama lobster dederan. Harapannya, ke depan ada produksi lobster konsumsi yang berasal dari hasil pembesaran masyarakat," ujar Dr Irzal.

Efisiensi Budidaya dan Kelangsungan Hidup

Konsep ini didasari oleh fakta ilmiah mengenai siklus hidup lobster di alam liar yang memiliki tingkat kematian sangat tinggi pada fase larva hingga benih akibat predasi.

Dengan sistem akuakultur terkontrol, terutama pemeliharaan pada sistem dasar laut, tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR) dapat ditingkatkan secara signifikan.

Data riset menunjukkan bahwa untuk mencapai ukuran 20–30 gram, lobster membutuhkan waktu pemeliharaan sekitar 140 hari. Saat ini, tim IPB University telah mencapai angka SR sebesar 71 persen dan menargetkan peningkatan berkelanjutan hingga tahun 2027.

Target Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate) Lobster:

Tahun Target Survival Rate (SR)
2024 (Saat Ini) 71%
2026 73%
2027 75% – 78%

Analisis Ekonomi dan Potensi Pasar

Dari sisi bisnis, kajian IPB University menunjukkan bahwa usaha lobster dederan sangat layak secara ekonomi. Dengan Revenue Cost (RC) Ratio sebesar 1,28, usaha ini menjanjikan keuntungan bagi pembudi daya. Harga jual rata-rata lobster dederan ukuran 50 gram mencapai Rp26.676 per ekor, sementara harga benih ideal dipatok maksimal Rp18.000 agar tetap kompetitif bagi nelayan penangkap.

Potensi pasar internasional pun masih terbuka lebar, khususnya ke Vietnam dan Tiongkok. Dr Irzal mencatat bahwa pada momentum tertentu seperti menjelang Tahun Baru Imlek, harga lobster mutiara bahkan bisa menembus Rp950.000 per kilogram akibat menipisnya pasokan dari alam.

Pemberdayaan Masyarakat

IPB University tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga mendorong model pengembangan berbasis masyarakat. Beberapa daerah seperti Simeulue, Kaimana, dan Halmahera Selatan telah menyatakan minat untuk berkolaborasi dalam program pelatihan.

"Sebetulnya kuncinya ada di sumber daya manusia. Karena itu, kami ingin membangun kapasitas masyarakat agar mampu menjadi pembudi daya lobster yang baik," pungkas Dr Irzal.

Melalui penyempurnaan teknologi pakan dan manajemen budidaya, inovasi ini diharapkan menjadi pilar baru ekonomi biru Indonesia. (z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |