Ilustrasi--Petugas memasukkan bahan semai ke dalam pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/10/2025).(ANTARA/Aprillio Akbar)
GURU Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Yonny Koesmaryono, meluruskan persepsi umum mengenai teknologi modifikasi cuaca. Ia menegaskan bahwa teknologi ini bukanlah upaya menciptakan hujan secara ajaib dari kondisi langit yang tidak memiliki potensi awan.
Menurut Prof Yonny, modifikasi cuaca bekerja dengan cara mengintervensi proses fisika yang sudah berlangsung di atmosfer. Hal ini disampaikannya dalam program IPB Pedia yang disiarkan melalui kanal YouTube IPB TV.
"Modifikasi cuaca adalah membuat perubahan dari sesuatu yang sudah ada. Jadi bukan membuat hujan atau membuat air, tetapi memodifikasi proses yang terjadi di atmosfer," ujar Prof Yonny.
Memanfaatkan Siklus Hidrologi
Secara alami, hujan terbentuk melalui siklus hidrologi saat air dari berbagai sumber di bumi menguap ke atmosfer, mendingin, dan membentuk awan. Namun, Prof Yonny menjelaskan bahwa tidak semua awan yang terbentuk akan berakhir menjadi hujan.
Di sinilah peran teknologi modifikasi cuaca masuk. Intervensi dilakukan pada awan-awan yang memiliki potensi, seperti awan kumulus. Tim ahli akan menambahkan bahan higroskopis atau aerosol yang berfungsi sebagai inti kondensasi. Tujuannya adalah untuk mempercepat atau mengoptimalkan pertumbuhan awan tersebut agar jatuh sebagai hujan di lokasi yang diinginkan.
"Yang kita lakukan adalah mengintervensi proses fisika di awan agar pertumbuhannya bisa terkendali. Jadi bukan membuat hujan dari nol," tegasnya.
Kunci Keberhasilan: Stabilitas Atmosfer
Keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Prof Yonny menyebutkan bahwa atmosfer yang tidak stabil justru menjadi faktor pendukung utama karena proses penguapan berlangsung aktif dan awan tumbuh lebih cepat.
Sebaliknya, jika kondisi atmosfer stabil, intervensi seringkali menjadi tidak efektif karena awan cenderung sulit berkembang. Oleh karena itu, pengukuran mendalam menggunakan instrumen seperti balon cuaca wajib dilakukan sebelum operasi dimulai.
Tabel: Perbandingan Kondisi Atmosfer dalam Modifikasi Cuaca
| Tidak Stabil | Penguapan aktif, awan tumbuh cepat | Sangat Efektif |
| Stabil | Awan cenderung tidak berkembang | Kurang Efektif |
Mitigasi Bencana
Selain untuk memicu hujan, teknologi ini juga digunakan untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem. Meski demikian, Prof Yonny mengakui bahwa intervensi akan jauh lebih sulit dilakukan apabila sebuah badai sudah berkembang menjadi sangat kuat.
Sebagai penutup, ia menekankan bahwa teknologi modifikasi cuaca adalah instrumen penting untuk kepentingan manusia, baik dalam mengelola ketersediaan air di musim kemarau maupun mengurangi potensi bencana di musim hujan. (Z-1)

















































