Ilmuwan Temukan Senyawa Gula di Pusat Galaksi Bima Sakti

5 days ago 17
Ilmuwan Temukan Senyawa Gula di Pusat Galaksi Bima Sakti ilustrasi(Magnific)

PARA ilmuwan kembali menorehkan pencapaian di bidang astronomi dan astrobiologi. Untuk pertama kalinya, mereka menemukan senyawa gula "sejati" atau true sugar di ruang antarbintang (interstellar medium), yakni wilayah yang membentang di antara sistem-sistem bintang di dalam galaksi.

Melansir dari laman Space.com senyawa yang ditemukan adalah erythrulose, sejenis gula yang juga secara alami terdapat pada buah raspberry dan digunakan dalam sejumlah produk kosmetik, seperti self-tanner. Penemuan tersebut dilakukan pada sebuah awan molekuler di dekat pusat Galaksi Bima Sakti, tempat yang dipenuhi gas dan debu kosmik serta menjadi lokasi lahirnya bintang dan planet.

Meski terdengar sederhana, keberadaan gula di ruang antarbintang dinilai sangat penting karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana kehidupan pertama kali muncul di alam semesta, termasuk kemungkinan asal-usul kehidupan di Bumi.

Bukan Penemuan Gula Pertama di Luar Angkasa

Sebenarnya, gula bukan pertama kali ditemukan di luar angkasa. Pada 2023, misi OSIRIS-REx milik NASA berhasil membawa sampel asteroid Bennu ke Bumi. Analisis terhadap sampel tersebut menemukan butiran material yang mengandung senyawa gula.

Selain itu, para ilmuwan juga pernah mendeteksi gula pada sampel meteorit. Bahkan, lebih dari 25 tahun lalu, penelitian telah melaporkan adanya molekul gula di kawasan pusat Galaksi Bima Sakti.

Namun, penemuan terbaru ini memiliki arti yang jauh lebih besar. Pasalnya, untuk pertama kalinya gula ditemukan langsung di medium antarbintang, yaitu ruang di antara bintang-bintang tempat berbagai molekul kimia terbentuk sebelum akhirnya menjadi bagian dari sistem planet baru.

Lebih menarik lagi, erythrulose merupakan "gula sejati" pertama yang berhasil diidentifikasi di lingkungan tersebut.

Sebelumnya memang telah ditemukan sejumlah senyawa yang menyerupai gula di ruang angkasa, tetapi belum memenuhi karakteristik sebagai gula sejati. Dalam ilmu kimia, gula sejati memiliki rantai utama yang tersusun dari sedikitnya tiga atom karbon. Erythrulose sendiri memiliki empat atom karbon sehingga masuk ke dalam kategori tersebut.

Mengapa Penemuan Ini Penting?

Menurut para peneliti, penemuan erythrulose membuka peluang lebih besar untuk menemukan molekul organik lain yang jauh lebih penting bagi kehidupan.

Salah satu penulis studi, Carlos Briones, mengatakan bahwa keberadaan erythrulose dapat menjadi awal dari penemuan senyawa gula lainnya.

"Penemuan erythrulose sangat menarik karena membuka kemungkinan untuk menemukan gula lain di ruang angkasa, seperti ribosa yang merupakan bagian dari RNA, serta molekul-molekul penting lainnya yang berperan dalam asal-usul kehidupan," ujar Briones.

RNA merupakan salah satu molekul yang berperan penting dalam menyimpan dan meneruskan informasi genetik. Karena itu, keberadaan gula yang menjadi penyusun RNA dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana molekul kehidupan mulai terbentuk di alam semesta.

Gula Bisa Terbentuk Secara Alami di Luar Angkasa

Penulis utama penelitian, Izaskun Jiménez-Serra, astronom dari Center for Astrobiology di Madrid dan Spanish National Research Council, mengatakan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan molekul gula ternyata dapat terbentuk secara alami di ruang angkasa.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa gula dapat terbentuk secara alami di luar angkasa," kata Jiménez-Serra.

Ia menjelaskan bahwa erythrulose merupakan temuan yang sangat penting karena senyawa tersebut dapat berubah menjadi bahan penyusun asam nukleat.

"Erythrulose mungkin menyediakan bahan baku bagi pembentukan asam nukleat pertama. Itulah sebabnya penemuan erythrulose sangat penting untuk memahami asal-usul kehidupan," jelas Jiménez-Serra.

Asam nukleat sendiri merupakan molekul yang menyimpan informasi genetik dalam sel dan menjadi komponen utama DNA maupun RNA. Tanpa molekul tersebut, kehidupan seperti yang dikenal saat ini tidak akan dapat terbentuk.

Mungkinkah Kehidupan Berasal dari Ruang Antarbintang?

Para ilmuwan menjelaskan bahwa bintang dan planet lahir di dalam awan molekuler raksasa yang tersusun atas gas dan debu. Jika erythrulose memang terbentuk di lingkungan tersebut, molekul itu berpotensi menempel pada asteroid, komet, maupun benda langit kecil lainnya.

Ketika benda-benda langit tersebut menghantam sebuah planet muda, senyawa organik yang dibawanya dapat tertinggal di permukaan dan menjadi salah satu bahan dasar yang mendukung terbentuknya kehidupan.

Hipotesis ini sejalan dengan teori yang telah lama berkembang di kalangan ilmuwan. Sekitar 4 miliar tahun lalu, Bumi diperkirakan mengalami periode pemboman hebat oleh asteroid dan komet. Tumbukan tersebut diyakini tidak hanya membawa air, tetapi juga berbagai molekul organik yang diperlukan untuk memulai proses kimia menuju kehidupan.

Dengan ditemukannya erythrulose di ruang antarbintang, para peneliti kini memiliki bukti baru bahwa bahan-bahan penyusun kehidupan mungkin telah terbentuk jauh sebelum planet seperti Bumi lahir. Molekul-molekul tersebut kemudian dapat diantarkan ke berbagai planet melalui asteroid atau komet, sehingga membuka kemungkinan bahwa benih kehidupan berasal dari ruang antarbintang.

(Space/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |