Maestro seni kontemporer Heri Dono didampingi Owner Adelle Jewellery Michael Surya dan GM G3N Project Andry Ismaya Permadi, saat menghadiri private event “The Collectors Gallery: Gems & Arts” di Hotel Park Hyatt Jakarta, Jumat (17/7/2026).(MI/HO)
CAHAYA berlian, bahasa seni rupa, dan imajinasi budaya bertemu dalam satu ruang ketika maestro seni kontemporer Indonesia, Heri Dono, berkolaborasi dengan Adelle Jewellery dan G3N Project. Proyek eksklusif ini mempertemukan dunia seni murni dengan industri perhiasan mewah Indonesia dalam sebuah harmoni estetika yang mendalam.
Kolaborasi tersebut diperkenalkan kepada publik dalam rangkaian pameran dan pertemuan eksklusif bertajuk The Collectors Gallery: Gems & Arts pada 17–18 Juli 2026 di Hotel Park Hyatt Jakarta.
Acara ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berbicara mengenai kemewahan material, tetapi juga mengenai gagasan, identitas, dan ekspresi artistik yang dapat dikenakan serta diwariskan lintas generasi.
Bagi Heri Dono, perhiasan merupakan bagian dari ekosistem seni yang lebih luas. Ia memandang seni sebagai katalisator berbagai disiplin ilmu yang tidak boleh berhenti pada wilayah seni murni semata.
Menurutnya, ruang dialog baru bagi kreativitas kontemporer kini mencakup desain, arsitektur, teknologi, hingga perhiasan.
"Di dalam seni murni kadang terjadi stagnasi selera. Kolaborasi seperti ini membuka wilayah baru bagi imajinasi untuk bergerak lebih jauh dan menjangkau masyarakat yang lebih luas," ujar Heri Dono di sela-sela acara, Jumat (17/7/2026).
Metafora Kebebasan dalam Kilau Batu Mulia
Dalam proyek yang akan segera diluncurkan tahun ini, Heri Dono menerjemahkan bahasa visual dari instalasi dan lukisan ikoniknya ke dalam empat desain perhiasan eksklusif. Inspirasi utama koleksi ini berakar pada karya ikonik sang maestro dari 1996, sebuah simbol visual yang lahir menjelang masa reformasi Indonesia.
Sosok bidadari yang terperangkap di dalam jaring menjadi metafora sentral mengenai kebebasan dan harapan yang kerap dibatasi ruang sosial maupun politik. Melalui medium berlian dan batu mulia, simbol tersebut kini memperoleh "kehidupan baru" dalam bentuk yang dapat dikenakan sehari-hari tanpa kehilangan kekuatan naratifnya.
| Kolaborator | Heri Dono x Adelle Jewellery x G3N Project |
| Waktu & Tempat | 17–18 Juli 2026, Hotel Park Hyatt Jakarta |
| Jenis Karya | Bros, Pendant, Anting, dan Karya Kinetik |
| Inspirasi Visual | Simbol Bidadari (Karya Ikonik 1996) |
Membawa Cerita Indonesia ke Panggung Dunia
Owner Adelle Jewellery, Michael Surya, menegaskan bahwa perhiasan kini telah bergeser peran. Tidak lagi sekadar pelengkap penampilan, perhiasan dipandang sebagai karya seni dengan identitas budaya yang kuat. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk membawa budaya Indonesia ke panggung internasional melalui desain universal.
"Tantangannya adalah menerjemahkan karakter visual Heri Dono yang sangat kuat ke dalam bentuk yang tetap elegan, fungsional, dan relevan bagi perempuan maupun laki-laki," ungkap Michael.
Senada dengan hal tersebut, General Manager G3N Project, Andry Ismaya Permadi, menilai kolaborasi lintas disiplin adalah masa depan ekosistem seni tanah air. Seni tidak boleh eksklusif di ruang galeri, tetapi harus berdialog dengan industri kreatif untuk menciptakan nilai kebaruan.
"Ketika seniman, brand, dan ekosistem kreatif bekerja bersama, yang lahir bukan hanya sebuah produk, tetapi sebuah warisan budaya yang relevan dengan zaman," pungkas Andry.
Pertemuan antara Adelle Jewellery, Heri Dono, G3N Project, dan Studio Kalahan ini menjadi embrio bagi hubungan yang lebih erat antara seni kontemporer dan industri jenama mewah. Pada akhirnya, jika berlian mampu memantulkan cahaya, maka sentuhan senilah yang memberikan cahaya itu sebuah makna. (Z-1)

















































