Orang-orang memantau data keuangan yang ditampilkan di layar di dalam ruang transaksi Hana Bank di pusat Kota Seoul, Korea Selatan, Senin, 20 Juli 2026.(Yonhap)
BURSA saham Asia bergerak hati-hati pada awal perdagangan Senin (20/7) setelah eskalasi konflik di kawasan Teluk mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi. Investor juga menantikan rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar pekan ini.
Harga minyak mentah Brent naik sekitar 3% hingga menembus US$90 per barel atau sekitar Rp1,46 juta per barel, untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan. Kenaikan terjadi ketika militer Amerika Serikat (AS) memasuki hari kesembilan serangan terhadap Iran, sementara Teheran melancarkan serangan ke sejumlah target di kawasan.
Kenaikan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed).
“Perkiraan kami adalah perubahan menuju kenaikan suku bunga The Fed yang lebih bertahap pada 2027. Namun, keseimbangan risiko mulai bergeser ke arah kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan,” ujar Bruce Kasman, Kepala Ekonom JPMorgan.
Pasar berjangka kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed paling cepat pada September mencapai 60%. Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun kembali menembus level psikologis 5%.
Kenaikan imbal hasil obligasi dapat mengalihkan dana investor dari saham ke instrumen pendapatan tetap. Kondisi tersebut juga meningkatkan standar valuasi yang harus dipenuhi perusahaan melalui kinerja laba.
Saham Teknologi Jadi Perhatian
Pergerakan pasar terjadi ketika investor mulai mempertanyakan valuasi tinggi saham semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI). Indeks Philadelphia Semiconductor anjlok 10% pekan lalu dan kini turun sekitar 20% dari rekor tertinggi pada Juni.
Sentimen sektor AI juga tertekan setelah perusahaan AI China Moonshot mengumumkan model open-weight Kimi K3. Perusahaan tersebut menyatakan model itu memiliki kinerja yang mendekati model frontier Fable milik perusahaan AI Amerika Serikat, Anthropic.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Alphabet, Intel, dan Tesla, yang dijadwalkan dirilis pekan ini.
Analis BofA Savita Subramanian tetap optimistis terhadap prospek kinerja perusahaan. Ia memperkirakan laba perusahaan akan melampaui konsensus sekitar 5% atau tumbuh 28%. Sektor teknologi diperkirakan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan tersebut, dengan laba perusahaan semikonduktor diproyeksikan meningkat sekitar 130% secara tahunan.
Di pasar Asia, indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,3%. Bursa Korea Selatan yang didominasi saham teknologi dan semikonduktor melemah 0,6% setelah anjlok hampir 9% pekan lalu.
Bursa Jepang tutup karena hari libur nasional. Indeks Nikkei sebelumnya merosot 6,4% pada pekan lalu akibat aksi jual saham teknologi.
Sementara itu, kenaikan harga minyak menjadi tantangan bagi Bank Sentral Eropa (ECB), yang akan menggelar rapat kebijakan pada Kamis. Pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga di level 2,25 persen.
Di pasar valuta asing, euro relatif stabil di level US$1,1433, sedangkan dolar AS berada di posisi 162,41 yen. Harga emas turun 0,6% menjadi US$3.993 per troy ounce atau sekitar Rp64,8 juta per troy ounce, tertekan kenaikan imbal hasil obligasi. (CNA/B-3)

















































