Hadapi Tekanan Mosi tidak Percaya, Infantino Gelar Rapat Darurat FIFA

6 hours ago 1
Hadapi Tekanan Mosi tidak Percaya, Infantino Gelar Rapat Darurat FIFA Presiden FIFA Gianni Infantino.(FRANCK FIFE / AFP)

KURSI kepemimpinan Gianni Infantino di puncak organisasi sepak bola dunia (FIFA) kini berada di ujung tanduk. Tekanan hebat mendera pria asal Swiss tersebut setelah kontroversi rencana komersialisasi turnamen Piala Dunia memicu gelombang mosi tidak percaya, ancaman boikot kompetisi, hingga manuver hukum dari berbagai konfederasi benua.

Di tengah situasi yang kian memanas, Infantino dilaporkan memanggil rapat darurat bagi seluruh staf FIFA yang berlangsung di Rabat, Maroko, pada hari Rabu. Langkah ini diambil menyusul kecaman global akibat rencana pembentukan perusahaan patungan bernama FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas komersial yang sedianya diproyeksikan mengelola aspek operasional turnamen FIFA, lengkap dengan rencana penjualan 20 persen saham kepada investor swasta.

Rencana yang pertama kali dibongkar oleh The Times dan Financial Times pekan lalu itu langsung menuai penolakan masif. Badan sepak bola Eropa (UEFA) bersama CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bereaksi keras. Bahkan, UEFA sempat melayangkan ancaman boikot terhadap seluruh turnamen resmi FIFA, termasuk Piala Dunia, sebelum akhirnya proyek kontroversial tersebut resmi dibatalkan pada Sabtu lalu.

Dampaknya langsung menghantam internal FIFA. UEFA menyatakan secara terbuka telah "kehilangan kepercayaan" pada kepemimpinan Infantino. Sejumlah asosiasi sepak bola terkemuka seperti Inggris dan Wales secara resmi mencabut dukungan mereka, sementara Skotlandia dikabarkan mengambil sikap serupa. 

Di sisi lain, tekanan politik juga datang dari Yordania, di mana Presiden Asosiasi Sepak Bolanya, Pangeran Ali Bin Al Hussein, secara terbuka menuduh FIFA melakukan praktik pemerasan terkait penggalangan suara.

Badai internal ini turut memicu gesekan di level pimpinan tertinggi. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, dalam pesan internal kepada para stafnya, mengakui bahwa para pegawai terjebak dalam "gejolak yang sulit dipahami dan diterima." Situasi ini semakin runyam setelah pengunduran diri penasihat senior Carlos Cordeiro pekan lalu, serta pernyataan terbuka Kepala Operasional FIFA Kevin Lamour yang menyebut para staf telah "dikelabuhi" oleh sang presiden.

Kendati demikian, dukungan bagi Infantino belum sepenuhnya runtuh. Kawasan Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania diprediksi masih akan berdiri di belakangnya. Sementara itu, blok Asia, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Sri Lanka, dan Lebanon, menjadi penentu krusial bagi kelangsungan masa depan kepemimpinannya di tengah perpecahan suara yang kian tajam.

Di lini hukum, tekanan terhadap Infantino kian nyata. Tim kuasa hukum UEFA dikabarkan telah memerintahkan jajaran petinggi FIFA untuk segera mengamankan seluruh dokumen terkait proyek FFE sebagai persiapan langkah hukum lanjutan. Apabila kubu oposisi di Dewan FIFA berhasil menggalang mayoritas 19 suara untuk meminta pertanggungjawaban atau melancarkan "boikot tata kelola" yang melumpuhkan operasional organisasi, masa depan kepemimpinan Gianni Infantino di kursi nomor satu FIFA kini berada di ambang keruntuhan. 

(Espn/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |