Pemulung memilah sampah plastik di zona perluasan atau zona 5 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (16/7/2025)(ANTARA/ABDAN SYAKURA)
IKATAN Alumni Fakultas Biologi Universitas Nasional (IKA FABIONA) bersama Program Studi Biologi Universitas Nasional menggelar Webinar Bio Coffee Talk pada Sabtu (11/7) di Jakarta.
Webinar ini menjadi wadah diskusi ilmiah mengenai berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyebarluaskan hasil riset kepada masyarakat.
Dalam webinar tersebut, Guru Besar Bidang Konservasi Lingkungan Prof. Dr. Melati Ferianita Fachrul, M.S. mengangkat tema "Sinergi Sains dan Partisipasi Masyarakat untuk Konservasi Lingkungan Berkelanjutan Indonesia".
Dalam paparannya, Prof. Melati menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan lingkungan yang kompleks, mulai dari timbulan sampah nasional yang mencapai sekitar 69,2 juta ton per tahun, pencemaran di berbagai sungai, hingga meningkatnya tekanan terhadap ekosistem akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.
"Pengelolaan lingkungan pada hakikatnya adalah pengelolaan perilaku manusia sehingga keberhasilan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi maupun regulasi pemerintah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi erat antara sains, kebijakan, dan partisipasi aktif masyarakat melalui prinsip think globally, act locally," kata dia.
Sebagai bentuk kontribusi nyata dunia akademik, Prof. Melati memaparkan berbagai inovasi berbasis Nature-based Solutions (NbS) yang dirancang sesuai karakteristik ekosistem tropis Indonesia. Salah satu inovasi tersebut adalah pemanfaatan konsorsium bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis serta fungi Aspergillus niger sebagai agen biologis untuk mempercepat degradasi sampah plastik polietilen yang sulit terurai secara alami.
Selain itu, ia juga memperkenalkan teknologi Floating Treatment Wetland (FTW) bertenaga surya atau lahan basah terapung yang telah diuji di Danau Nagrak Universitas Trisakti. Teknologi ini memanfaatkan tanaman air dan mikroorganisme untuk memperbaiki kualitas air, dengan hasil pengujian menunjukkan penurunan berbagai parameter pencemar secara signifikan, termasuk Total Suspended Solid (TSS) hingga lebih dari 70 persen. "Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan sebagai solusi praktis bagi permasalahan lingkungan di masyarakat," lanjutnya.
Prof. Melati menegaskan bahwa masa depan konservasi lingkungan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan membangun kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat melalui pendekatan citizen science.
Masyarakat perlu didorong menjadi subjek utama dalam menjaga lingkungan, sementara perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan hasil penelitian menjadi teknologi yang sederhana, mudah diadopsi, dan memberikan manfaat nyata bagi publik. Melalui sinergi tersebut diharapkan terwujud tata kelola lingkungan yang seimbang antara aspek ekologis, sosial, dan ekonomi, sekaligus mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) serta memperkuat ketahanan Indonesia dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Webinar Bio Coffee Talk juga mencerminkan komitmen IKA FABIONA dalam membangun budaya berbagi pengetahuan dan mempererat kolaborasi antara alumni, akademisi, mahasiswa, serta masyarakat untuk mendorong lahirnya solusi inovatif bagi pembangunan berkelanjutan. (H-2)

















































