Ilustrasi serangan Iran ke pusat militer AS di Timur Tengah.((Antara))
KORPS Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan fase kelima serangan balasan yang menyasar sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di negara-negara Arab pada Senin (13/7). Serangan tersebut diklaim menargetkan instalasi militer AS di Bahrain, Oman, dan Kuwait.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui kantor berita Sepah, IRGC menyebut serangan rudal dan drone diarahkan ke instalasi dan infrastruktur militer agresor Amerika Serikat di Juffair, Bahrain, serta sistem radar udara jarak jauh FPS dan radar pendeteksi kapal di Oman.
IRGC mengeklaim serangan itu berhasil merusak sistem radar di Oman sekaligus menghantam fasilitas militer AS di wilayah selatan Manama, Bahrain. "Selain menargetkan fasilitas dan infrastruktur militer Amerika Serikat di Juffair, Bahrain, yang kini dilanda kebakaran, angkatan laut Korps Garda Revolusi juga telah menargetkan dan menghancurkan radar udara jarak jauh FPS serta radar pendeteksi kapal di Kesultanan Oman," demikian bunyi pernyataan IRGC.
Sebelumnya, IRGC juga menyatakan telah melancarkan fase keempat operasi balasan dengan menyerang sebuah pangkalan rudal darat-ke-darat milik Amerika Serikat di Kuwait pada Senin (13/7) dini hari.
Dalam klaimnya, Iran menyebut serangan tersebut menghancurkan dua peluncur rudal HIMARS beserta gudang penyimpanan rudal milik AS. IRGC kembali menegaskan bahwa sistem radar di Oman telah dihancurkan dalam operasi tersebut.
Selain melaporkan serangan, IRGC juga menyampaikan ultimatum terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurut mereka, jalur pelayaran strategis itu hanya akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat menghentikan intervensi militernya di kawasan.
"Menghormati kedaulatan negara-negara atas wilayah perairan pesisir mereka sendiri. Kelanjutan intervensi tersebut akan memicu insiden yang lebih besar di sektor minyak dan gas dunia," lanjut pernyataan IRGC.
Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat dan Iran terus saling melancarkan serangan udara meski sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata serta menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan mengakhiri konflik.
Di sisi lain, US Central Command (CENTCOM) atau Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan pasukannya telah melaksanakan gelombang terbaru serangan terhadap puluhan target di Iran sejak Minggu (12/7) malam hingga Senin (13/7) dini hari.
CENTCOM menyebut pesawat tempur, kapal perang, dan drone militer AS digunakan untuk menyerang berbagai sasaran strategis di Iran. "Menyelesaikan gelombang baru serangan ofensif terhadap Iran, dengan menghantam puluhan target di berbagai lokasi menggunakan amunisi berpemandu presisi guna melemahkan kemampuan Iran untuk terus menyerang pelayaran internasional yang melintasi Selat Hormuz," tambahnya.
Eskalasi terbaru antara Washington dan Teheran dipicu oleh perselisihan mengenai status Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Iran melalui IRGC berulang kali menyatakan Selat Hormuz berada di bawah kendali mereka dan saat ini ditutup. Sementara itu, Amerika Serikat menegaskan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka bagi lalu lintas internasional dan tidak berada di bawah kendali Iran. (Al Jazeera/Fer/P-3)

















































