Ilustrasi(Dok Istimewa)
SMA Labschool Jakarta resmi menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026. Mengusung semangat pembentukan karakter, literasi, kepedulian sosial, dan pengembangan potensi, kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa baru melalui berbagai rangkaian program edukatif.
Kepala SMA Labschool Jakarta, Badru Zaman, menjelaskan bahwa MPLS merupakan gerbang awal bagi peserta didik untuk bertransformasi dan mengenal budaya sekolah. Menurutnya, siswa tidak hanya diperkenalkan pada sarana fisik atau kurikulum, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai luhur ke-Labschool-an yang mencakup iman, ilmu, dan amal.
“Tantangan ke depan, siswa perlu terus berkembang menjadi pribadi yang adaptif, inovatif, serta berdaya saing global tanpa kehilangan akar budaya dan karakter bangsa,” ujar Badru Zaman dalam keterangannya kepada Media Indonesia, Minggu (19/7).
Mitigasi Bencana dan Wiyata Mandala
Selama lima hari pelaksanaan, siswa baru menjalani kegiatan Wiyata Mandala untuk mengenal kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta fasilitas penunjang pembelajaran. Langkah ini bertujuan agar siswa memahami tata tertib dan identitas warga Labschool sejak dini.
Sebagai bentuk penguatan kesiapsiagaan, para siswa juga mengikuti pelatihan mitigasi bencana kebakaran yang dipandu oleh Pemadam Kebakaran Sektor Pulogadung. Peserta mendapatkan materi mengenai pencegahan kebakaran, prosedur evakuasi, hingga praktik langsung penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Literasi dan Apresiasi Seni
Pengalaman belajar diperluas melalui kunjungan edukatif ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Di sana, siswa tidak hanya mengenal fasilitas literasi nasional, tetapi juga berkesempatan mengapresiasi Pameran Seni “Growing Up As An Indonesian” yang menampilkan karya siswa kelas XII SMA Labschool Jakarta.
Pameran tersebut mendapat apresiasi khusus dari Wakil Menteri Koperasi RI, Farida Farichah. Ia menilai karya-karya yang ditampilkan mencerminkan identitas generasi muda dan optimisme terhadap masa depan ekonomi kreatif Indonesia.
“Seni adalah cermin dari identitas dan pemikiran sebuah generasi. Melihat karya-karya ini, saya optimistis masa depan ekonomi kreatif Indonesia berada di tangan yang tepat,” kata Farida. Ia menambahkan bahwa semangat untuk tumbuh dan maju bersama dalam karya seni tersebut sejalan dengan napas koperasi.
Nilai Spiritual dan Pengembangan Bakat
Selain aspek kognitif dan seni, peserta didik baru melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, toleransi, serta pemahaman akan keberagaman sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian MPLS ditutup dengan Expo Ekstrakurikuler yang menampilkan lebih dari 23 jenis kegiatan siswa. Ajang ini menjadi inspirasi bagi siswa baru untuk memilih wadah pengembangan minat dan bakat selama menempuh pendidikan tiga tahun ke depan.
Salah satu peserta didik baru, Said Altair, mengaku sangat terkesan dengan pelaksanaan MPLS tahun ini. “Cara penyampaian materinya interaktif dan mudah dipahami. Saya jadi lebih mengenal budaya Labschool dan mendapat banyak teman baru. Ini membuat saya siap menjalani pendidikan di sini,” ungkapnya.
Melalui penyelenggaraan MPLS 2026, SMA Labschool Jakarta berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global.(H-2)

















































