GALERI orbital Dago Bandung menghelat pameran tunggal seniman Fatih Jagad Raya bertajuk Tanah Airku Banyak Dedemit mulai 13 Juni hingga 12 Juli 2026. Karyanya menggambarkan kondisi terbaru Indonesia yang disertai kritik politik lewat seni media baru.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pada seri garapan berjudul Metamorfosis Tanah Air yang mendominasi dengan sepuluh karya berukuran masing-masing 70 x 50 sentimeter dalam posisi vertikal, Fatih menggunakan teknik lenticular print. Pencetakannya yang menggunakan lensa khusus itu menggabungkan beberapa gambar hingga menimbulkan efek gambar yang berubah atau bergerak jika dilihat dari posisi tertentu.
Sosok pada karya itu mengacu pada ayahnya yang juga seniman, yaitu Isa Perkasa, saat melakukan seni pertunjukan dengan kepala ditutup kantong. Dalam gambar, sosok itu seperti menari dengan latar hutan belantara yang samar-samar ditutupi pipa, tangki, cerobong industri, konstruksi pilar jalan layang, pengeruk alat berat, hingga sosok itu terkapar di atas dedaunan.
Sementara pada karya cetak digital berukuran 300 x 100 sentimeter berjudul Hidangan Para Buta yang tersusun dari tiga panel, Fatih menghadirkan sekelompok orang berpakaian seragam. Memakai setelan jas dan pantalon warna gelap dengan dasi merah, semua kepalanya ditutup kantong putih. Mereka berkumpul di sekitar meja panjang yang sarat tulang dan tengkorak di kolongnya.
Dalam pameran itu Fatih juga membuat karya bertema senada dengan media campuran, serta animasi tiga dimensi berjudul Sembilan Dedemit. Menurut kurator pameran Rifky Effendy, sosok dedemit pada karya Fatih bukan makhluk gaib penghuni gelap hutan rimba, melainkan sosok-sosok yang hidup di tengah masyarakat. Mereka rakus, manipulatif, haus kuasa, dan tanpa nurani, menari-nari, berjoget di atas penderitaan. “Karyanya mengkritisi realitas sosial politik yang terasa semakin absurd,” katanya, Sabtu 13 Juni 2026.
Gerakan tari pada tokoh karyanya merupakan metafora dari orang yang seperti kesurupan atau kerasukan dengan membabat pepohonan di hutan untuk diganti secara permanen sebagai perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, serta perumahan. “Dalam konteks Indonesia kontemporer, karya ini dapat dibaca sebagai refleksi kritis terhadap relasi antara pembangunan industri, kekuasaan ekonomi-politik, dan krisis ekologis yang terus membentuk kehidupan sosial masyarakat,” ujar Rifky.
Lewat karyanya, Fatih membongkar realitas yang sering disamarkan oleh bahasa kekuasaan. Dalam konteks seni rupa kontemporer, menurut Rifky, kekaryaan seniman menunjukkan bahwa kritik sosial tidak harus hadir secara literal. “Kita diajak membaca karya bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan pengalaman sosial sendiri soal kemiskinan, ketidakadilan, ketakutan, dan absurditas politik sehari-hari,” ujarnya. Lebih dari sekedar tema, kritik sosial politik menjadi cara seniman menjaga kesadaran publik bahwa seni dapat menjadi suara bagi mereka yang dibungkam atau bising dalam senyap.
Fatih Jagad Raya kelahiran Bandung pada 2000, merupakan lulusan Departemen Pendidikan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Seni Rupa dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) pada 2023. Beberapa kali berpameran , baik di luar negeri maupun di dalam negeri, pretasinya antara lain meraih juara pertama pada 2026, dan juara kedua Grey Art Award 2024.































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)















