Empat Perkara, Kawan

6 days ago 6
Empat Perkara, Kawan Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PIALA Dunia 2026 menyisakan empat perkara yang kiranya menyesakkan dada. Pertama, kartu merah. Kedua, adu penalti. Ketiga, ego besar. Keempat, buruknya sepak bola Asia.

Kartu merah bikin tim yang semula bermain terbuka, menyerang, enak ditonton, mendadak harus berubah. Swis sedang bagus-bagusnya menekan Argentina, skor 1-1, ketika wasit menghukum kartu merah Embolo pada menit ke-72. Sejak itu tinggal soal waktu tim kalah jumlah pemain bakal tumbang. Argentina menang 3-1.

Sesuatu yang tidak berimbang mengusik rasa keadilan. Kartu merah itu tampaknya seperti 'hukuman mati' hanya bagi si terhukum. Kenyataannya berakibat holistis.

Hukuman mati di ranah pidana telah ditinggalkan banyak negara. Kiranya perlu dipikirkan bentuk hukuman lain di ranah sepak bola. Hukuman itu, misalnya, pemain yang terkena kartu merah dikeluarkan dari lapangan 4,5 menit (10% dari 45 menit). Setelah menjalani hukuman 4,5 menit itu, wasit mengizinkan pemain itu kembali ke arena pertandingan. Kehilangan menit bermain 'selama itu' cukup berarti. Bila sekali lagi pemain itu melakukan pelanggaran, mendapat dua kartu merah, barulah ditamatkan riwayatnya di pertandingan itu.

Sepak bola bukan hanya adu teknik, adu skill, adu skema, melainkan juga bentrokan fisik yang tak jarang disengaja. Menarik kaus lawan sampai robek dan lawan terjatuh kerap terjadi. Sampai kekerasan tertentu, bentrokan fisik, masih dipandang wajar. Frasa 'sampai kekerasan tertentu' bermakna menyerahkan keputusan penghakiman sepenuhnya kepada kearifan wasit. Kendati ada VAR, keputusan sesat tetap bisa terjadi. Bila itu terjadi, dampak buruk hukuman 4,5 menit terhadap permainan kiranya lebih dapat ditoleransikan jika dibandingkan dengan hukuman yang berlaku sekarang.

Yang paling menyesakkan dada intervensi Presiden Trump atas hukuman kartu merah Balogun. Di babak 16 besar, di pertandingan AS versus Bosnia-Herzegovina, Balogun mendapat kartu merah langsung karena melanggar keras pemain lawan. Akibat kartu merah itu, ia tidak boleh bermain satu pertandingan berikutnya. Namun, karena campur tangan Trump terhadap FIFA, Balogun bermain di pertandingan berikutnya AS versus Belgia.

Hukuman 4,5 menit kiranya membuat negara tuan rumah tak perlu menggunakan kekuasaan mereka. Itu benar kalau presiden mereka bukan Trump. Baginya, penting menunjukkan dirinya bisa berbuat apa pun di dunia ini.

ADU PENALTI

Adu penalti menyakitkan hati ditonton. Kesebelasan kalah kelas bersengaja bermain negatif agar pertandingan berakhir imbang. Lalu berspekulasi menang melalui adu penalti.

Spekulasi itu memiliki basis empirik. Dr Paul McCarthy meneliti 128 sesi adu penalti, meliputi 1.343 tendangan penalti. Temuannya, tim yang menendang lebih dulu 60,5% keluar sebagai pemenang. Itu pun bentuk ketidakadilan, bahwa peruntungan memihak kepada tim yang duluan menendang.

Adu penalti memicu kecemasan kognitif. Detak jantung melonjak. Terjadi penyempitan fokus perhatian yang mengganggu kemampuan kontrol motorik halus pemain.

Mengalami gejala psikis macam itu, dalam permainan normal sekalipun, tak ada pemain 100% berhasil mengeksekusi penalti. Tingkat keberhasilannya 85%. Halaand pernah gagal di Liga Inggris. Messi, Mbappe bahkan gagal mengeksekusi dari titik putih di Piala Dunia 2026 ini. Adu penalti bukan permainan normal. Dalam keadaan tidak normal itu tingkat keberhasilan turun drastis menjadi 76%. Itu berarti dalam adu penalti kemungkinan eksekutor gagal 24%. Setelah Belanda tersingkir (ketiga kali kalah adu penalti di Piala Dunia), lalu Jerman (pertama kali kalah), tidak berlebihan The New York Times membahasakan adu penalti ialah brutal.

Kenapa FIFA mempertahankan kebrutalan itu? Alasan utama, bermain lebih 120 menit bikin pemain mengalami kelelahan fisik yang esktrem dan sangat berisiko cedera serius. Akan tetapi, ada yang menginginkan di kala perpanjangan waktu, kembali diberlakukan sudden death yang dipandang lebih memuaskan jiwa karena menang berkat lebih dulu membuat gol.

Saya sendiri lebih suka adu penalti. Misteri menang atau kalah tetap tersembunyi selama 120 menit. Itu yang juga bikin sepak bola, kendati menegangkan, kendati jam tidur berkurang selama sebulan lebih, asyik ditonton.

EGO BESAR

Haaland di posisinya terbaik untuk menjebol gawang Inggris, tapi Sorloth tidak memberinya umpan. Pemain sayap kanan Norwegia itu tiba-tiba lebih memuaskan ego besarnya. Ia ingin membuat gol dari kakinya dan gagal. Kata Ibrahimovic, "Dia selfish, dia cemburu atas reputasi Haaland...."

Odegaard tak setuju dengan penilaian itu. Tak bijak mengadili Sorloth di satu pertandingan terakhir. Kapten Norwegia itu mengingat semua kontribusi Sorloth di turnamen, bukan satu pertandingan. Sorloth telah minta maaf. Kata Odegaard, "Kekalahan derita bersama. Kita sembuhkan bersama, belajar bersama, kita akan lebih kuat."

Di pertandingan Portugal versus Spanyol, Ronaldo tak mendapat assist dari Bruno Fernandes. Di babak kedua Fernandes malah melakukan back pass daripada memberikan umpan kepada Ronaldo. Padahal, pemain tengah MU itu ialah pemberi assist terbanyak di Liga Inggris. Ia memecahkan rekor atas nama Thierry Henry dan Kevin De Bryne. Portugal tersingkir kalah 0-1.

Kita tidak tahu apa yang mendorong Sorloth tiba-tiba berubah. Itu bukan dirinya di Atletico Madrid. Apakah faktor umur? Kini usianya 30 tahun. Mungkin empat tahun lagi ia tak lagi layak bermain di level dunia. Sekarang kesempatan terakhir membuat gol dari kaki sendiri.

Fernandes lebih tua. Usianya 31 tahun. Di MU, pada masa pelatih Amorim, ia sering berupaya mencetak gol dan gagal. Namun, di bawah Carrick, ia berubah, menjadi pengumpan paling produktif. Tak seperti Carrick yang diseganinya di MU, Roberto rupanya tak mampu menjinakkan ego besar Fernandes.

SEPAK BOLA KAWASAN

Substansi penting lainnya ialah pemikiran tentang kecerdasan kawasan/benua bersepak bola. Kecerdasan Afrika bersepak bola bertumbuh mengagumkan diwakili Mesir dan Moroko, bahkan Tanjung Verde (Tanjung Hijau). Kecerdasan Eropa kian mendominasi dunia diwakili Prancis, Inggris, Spanyol, tiga dari empat besar di puncak dunia. Amerika Latin mengalami kemunduran. Sejak babak delapan besar, menyisakan satu negara, Argentina yang terus melaju ke babak empat besar. Di semifinal ini semuanya negara besar dalam sepak bola.

Yang amat merosot ialah kecerdasan Asia bersepak bola. Korea Selatan angkat koper pagi sekali. Jepang pulang tersingkir di babak 32 besar. Sebagai warga Asia, saya mencoba menelannya. Pahit, memang. Di dalam kepahitan itu, baiklah melihat negara manakah yang paling cepat belajar dari kemunduran, dari kegagalan? Jawabnya, Jerman.

DFB, Asosiasi Sepak Bola Jerman, mengambil langkah cepat. Presiden DFB Bernd Neuendorf dan Wakil Presiden Hans-Joachim Watzke terbang ke New York, tempat Klopp tinggal sebagai petinggi Red Bull. Mereka membujuk dan menuntaskan Klopp menjadi pelatih kepala tim nasional Jerman selama empat tahun, sampai Piala Dunia 2030 usai.

DFB menyadari sepak bola Jerman mengalami kemunduran pesat. Tak bisa diperbaiki gradual. Perlu perubahan besar-besaran. Karena itu, tidak cukup pelatih kepala yang bagus, tapi yang hebat. Di sini berlaku premis Jim Collins, 'good to great'. Bagus itu musuhnya hebat. Nagelsmann dan yang sekelas ialah pelatih bagus. Diperlukan yang hebat. Dia ialah Klopp yang dalam tiga tahun berhasil membawa Liverpool ke puncak Liga Inggris, bahkan Eropa.

Klopp digaji lebih mahal daripada Nagelsmann yang dibayar 7 juta euro/tahun. Namun, tidak semahal yang diterimanya dari Red Bull. Ada 'diskon nasionalisme'. Kepadanya diberikan keleluasaan membawa asisten lamanya, Peter Krawietz dan Pepijn Lijnders (terakhir asisten Pep di Manchester City). Yang tak kalah penting, Klopp diberi kebebasan menggunakan sebagian otoritas DFB untuk membangun tim nasional Jerman yang baru.

Jikalau Belanda benar melirik Ten Hag atau Slot menggantikan Koeman sebagai pelatih kepala, tim 'Oranye' boleh diduga kuat bakal tambah merosot. Kedua manajer itu bukan manajer hebat. Keduanya tersingkir dari kepelatihan papan atas Liga Inggris.

Jepang dan Korea Selatan jelas perlu mencari pelatih hebat. Bila tak ada anak bangsa, kembalilah membaca sejarah sendiri, yaitu kala tim nasional Jepang dipimpin Zico (Brasil) dan Korsel dipimpin Hiddink (Belanda).

Bagaimana dengan Indonesia? Terus terang, kawan, dada saya sesak, tak bisa mengapresiasi jalan pintas naturalisasi. Jalan pintas, pada awal 1970-an, dibahasakan Prof Koentjaraningrat sebagai 'mentalitet menerabas', warisan buruk penjajahan Jepang. Dada sesak, kawan, terwariskan hingga sekarang

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |