Emigrasi Ideologis: Kisah Hagai Agmon-Snir, Aktivis Toleransi yang Tinggalkan Israel

1 week ago 17
 Kisah Hagai Agmon-Snir, Aktivis Toleransi yang Tinggalkan Israel Warga Gaza.(Al-Jazeera)

HAGAI Agmon-Snir, seorang mantan peneliti otak yang menghabiskan dua dekade membangun jembatan toleransi di Jerusalem, akhirnya menyerah. Melalui pesan singkat bulan lalu, ia mengonfirmasi keberangkatannya ke Italia dengan visa imigrasi satu kali jalan. Bagi sosok yang selama ini dikenal sebagai simbol optimisme Jerusalem, Israel kini menjadi tempat yang tanpa harapan.

Agmon-Snir dan istrinya, Iris Meiri-Snir--seorang wakil kepala sekolah menengah bergengsi di Jerusalem--menjual rumah mereka di Mevasseret Zion. Mereka memilih pindah ke kota Arona, Italia utara. Keputusan ini menandai akhir dari perjalanan panjang Agmon-Snir dalam mengupayakan koeksistensi antara komunitas Yahudi dan Palestina serta kelompok LGBTQ dan ultra-Ortodoks.

Jejak Toleransi yang Ditinggalkan

Selama bertahun-tahun, Agmon-Snir memimpin Pusat Antarbudaya Jerusalem (Jerusalem Intercultural Center). Ia bukan sekadar aktivis di balik meja; ia melatih ribuan polisi dalam metode nonkekerasan, berdebat dengan pemuda sayap kanan radikal di Zion Square untuk mencegah pelecehan terhadap warga Palestina, dan menginisiasi proyek bahasa Arab bagi puluhan ribu warga Israel.

Ia juga berperan krusial dalam memediasi ketegangan antara komunitas LGBTQ dan pemimpin ultra-Ortodoks agar parade Pride dapat berlangsung di Jerusalem. Namun, kini pandangannya berubah total. "Saya pikir situasi di sini tidak ada harapan dan kita harus menjauhkan diri dari kejahatan ini," ujarnya. Ia bahkan menyebut gerakannya sebagai emigrasi ideologis.

Kekecewaan terhadap Arah Politik Israel

Kekecewaan Agmon-Snir memuncak jauh sebelum peristiwa 7 Oktober 2023. Titik baliknya terjadi setelah pemilihan umum November 2022, saat ia melihat tingginya dukungan terhadap partai-partai yang ia sebut fasis di permukiman-permukiman Israel. Ia menilai komunitas religius Zionis telah terjebak dalam keserakahan, arogansi, dan rasa puas diri yang berbahaya.

Ia menguraikan tiga skenario masa depan yang semua buntu:

  • Negara untuk semua warga negara: Sesuatu yang menurutnya tidak akan pernah disetujui mayoritas Yahudi Israel.
  • Solusi dua negara: Yang ia anggap sudah mati karena masifnya pembangunan permukiman.
  • Solusi hibrida (kanton/federasi): Yang ia sebut sebagai bentuk apartheid terselubung.

"Menjadi Patriot Berarti Hidup dengan Rasa Bersalah"

Agmon-Snir menegaskan bahwa ia bukan anti-Zionis. Namun ia merasa tidak bisa lagi menanggung beban moral atas apa yang terjadi di negaranya, terutama terkait situasi di Gaza. Mengutip sejarawan Carlo Ginzburg, ia menyatakan bahwa bagian dari identitas seorang patriot adalah merasa malu atas kesalahan negaranya.

"Penyangkalan terhadap kejahatan perang di Gaza lebih parah di mata saya daripada penyangkalan Holocaust," tegasnya. Menurutnya, memberikan dukungan moral kepada tentara dengan mengeklaim bahwa kejahatan tersebut tidak terjadi menjadikan seseorang mitra dalam kejahatan tersebut.

Masa Depan di Italia

Meski menyadari bahwa kepindahannya akan melemahkan mereka yang masih berjuang di dalam negeri, Agmon-Snir merasa secara mental sudah tidak mampu lagi berdiri melawan kejahatan yang ia rasakan. Di Italia, ia berencana menghabiskan waktu dengan fotografi drone, sementara istrinya mengakui tantangan menjadi warga kelas dua di negara asing.

Walaupun ia tidak percaya Israel akan hancur secara fisik, Agmon-Snir tidak lagi melihat masa depan moral bagi negara tersebut. Baginya, meninggalkan Israel adalah satu-satunya cara untuk tetap jujur pada prinsip kemanusiaan yang selama ini ia perjuangkan di jalanan Jerusalem. (Haaretz/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |