Dua kapal yang mengangakut 44 imigran Bangladesh dan Rohingya terdampar di Pulau Rote, NTT, Senin (8/7)(.(Dok. polres rote ndao))
TRAGEDI kemanusiaan kembali melanda etnis Rohingya. Lebih dari 500 orang diduga tewas setelah dua kapal yang membawa pengungsi tenggelam di perairan Myanmar dalam beberapa pekan terakhir. Informasi ini dikonfirmasi melalui pernyataan bersama Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM) pada Kamis (16/7/2026).
Kronologi Keberangkatan dan Insiden
Berdasarkan data yang dihimpun, kedua kapal tersebut berangkat dari wilayah Rakhine, Myanmar, pada akhir Juni lalu. Sebagian besar penumpang merupakan etnis Rohing
Tragedi kemanusiaan kembali melanda etnis Rohingya. Lebih dari 500 orang diduga tewas setelah dua kapal yang membawa pengungsi tenggelam di perairan Myanmar dalam beberapa pekan terakhir. Informasi ini dikonfirmasi melalui pernyataan bersama Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM) pada Kamis (16/7/2026).
Kronologi Keberangkatan dan Insiden
Berdasarkan data yang dihimpun, kedua kapal tersebut berangkat dari wilayah Rakhine, Myanmar, pada akhir Juni lalu. Sebagian besar penumpang merupakan etnis Rohingya, di mana beberapa di antaranya diketahui berasal dari pusat pengungsian Cox's Bazar, Bangladesh.
Berikut adalah rincian dari dua kapal nahas tersebut:
- Kapal Pertama: Mengangkut sekitar 250 orang. Kapal ini dilaporkan hilang kontak tidak lama setelah memulai pelayaran dari Rakhine.
- Kapal Kedua: Membawa sekitar 280 orang. Kapal ini diduga kuat tenggelam di lepas pesisir Ayeyarwady, Myanmar, pada 8 Juli.
Pihak UNHCR dan IOM mengungkapkan kekhawatiran atas potensi besarnya jumlah korban jiwa dalam insiden ini. Melalui platform X, UNHCR menekankan bahwa para pengungsi Rohingya terpaksa mengambil risiko besar dengan menempuh jalur laut yang berbahaya demi mencari keamanan.
"Terjadinya peristiwa tersebut dan jumlah pasti korban kecelakaan masih belum dinyatakan secara resmi," ujar dua badan PBB Itu.
Kondisi di tanah air mereka menjadi pendorong utama eksodus ini. Kekerasan yang dilakukan oleh junta militer Myanmar serta konflik dengan kelompok etnis lain memaksa masyarakat Rohingya melarikan diri. Mereka mencari perlindungan ke berbagai wilayah, termasuk lokasi pengungsian di dalam negeri Myanmar, Bangladesh, dan negara lain seperti Indonesia. (Ant/H-4)

















































